Minggu, 31 Maret 2013

Hamba Terbaik, Hamba Terburuk



Oleh : KH. Muhammad Idris Jauhari
  
قَالَ رَسُولُ اللَّه ِصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ :”خِيَارُ عِبَادِ اللَّهِ الَّذِينَ إِذَا رُءُوا ذُكِرَ اللَّهُ، وَشِرَارُ عِبَادِ اللَّهِ الْمَشَّاءُونَ بِالنَّمِيمَةِ الْمُفَرِّقُونَ بَيْنَ اْلأَحِبَّةِ الْبَاغُونَ الْبُرَآءَ الْعَنَتَ.”
(رواه أحمد والبخاري في الأدب المفرد)

Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam bersabda,
“Sebaik-baik hamba Alloh adalah mereka yang membuat orang lain mengingat Alloh saat melihat mereka. Dan seburuk-buruk hamba Alloh adalah mereka yang berjalan ke sana ke mari menyebarkan fitnah, yang menyebabkan perpisahan di antara orang-orang yang saling mencintai, yang berusaha mendatangkan kesulitan kepada orang-orang yang tidak bersalah.”
(HR Ahmad dan Bukhori dalam kitab al-Adab al-Mufrod)

Berdasar hadits di atas, ada dua tipe seorang hamba di mata Alloh Subhananu wa Ta'ala. Pertama, hamba terbaik yaitu mereka yang mampu membuat orang lain mengingat Alloh ketika melihat mereka. Kedua, hamba terburuk yaitu mereka yang suka menyebarkan fitnah dan mendatangkan kesulitan bagi orang yang tidak bersalah.

Hamba Alloh Terbaik
Menjadi hamba Alloh dengan predikat terbaik menjadi dambaan setiap muslim. Predikat terbaik di sisi Alloh adalah capaian tertinggi seorang muslim sebagai seorang hamba. Tidak ada posisi yang lebih mulia dalam kehidupan seorang muslim kecuali Alloh benar-benar telah menetapkan orang tersebut sebagai kekasih-Nya.
Hamba terbaik di mata Alloh bukanlah semata seorang yang mampu menjalankan perintah Alloh dengan istiqamah dan menjauhi segala larangan-Nya secara sungguh-sungguh, melainkan mereka yang mampu membuat orang lain senantiasa mengingat Alloh (dzikrulloh) dalam situasi dan kondisi bagaimanapun, baik hati, pikiran, maupun tingkah lakunya.
Barometer hamba terbaik di mata Alloh tidak lagi didasarkan pada kesholehan individu semata. Tapi, bagaimana kesholehan individu bertransformasi menjadi sebuah energi spiritual-magnetik yang secara spontan mampu menarik orang-orang di sekitarnya untuk senantiasa melakukan dzikrulloh. Karena itu, bagi hamba Alloh terbaik, upaya menjadikan orang lain agar senantiasa melakukan dzikrulloh bukanlah sesuatu yang sulit dilakukan. Modalnya: kekuatan spiritual, kematangan kepribadian, dan kedalaman pikiran.
Hamba terbaik senantiasa memancarkan nur ilahiah dari sekujur tubuhnya. Nur ilahiah ini kemudian memancar menelusup kepada siapa pun yang berada di sekelilingnya. Siapa pun yang terkena pancaran nur ilahiah ini, sedikit banyak, akan mengalami perubahan kepribadian. Tak jarang mereka kemudian berbalik arah menjadi seorang alim, taat, dan istiqamah melaksanakan perintah Alloh dan menjauhi larangan-Nya.

Kamis, 28 Maret 2013

IHTIMAM; ANTARA TUGAS DAN PRIBADI

Oleh: Abi Ihya' Ulumiddin
Taushiyah Vol. 1 Edisi 1

Di dunia ini seorang muslim dihadapkan pada banyak kepentingan yang menuntut perhatiaannya. Baik kepentingan yang sifatnya menuju ketaatan kepada Alloh swt maupun kepentingan sebaliknya, yang pelaksanaannya tidak bernilai pahala bahkan sia-sia. Diantara kepentingan yang ada itu dapat tersimpulkan menjadi dua bagian: kepentingan tugas dan kepentingan pribadi. Kepentingan tugas maksudnya kepentingan dimana seorang muslim harus bertanggung jawab menjalankan ketaatan kepada TuhanNya dalam segala bentuknya. Sedangkan kepentingan pribadi merupakan kebalikannya.

Terhadap dua kepentingan itu, seorang muslim harus bisa memilih dan memilah mana kepentingan tugas dan mana kepentingan pribadi.Sehingga setiap langkahnya dalam memperhatikan (ihtimam) tiap-tiap kepentingan itu, baik dengan uangnya, tenaganya, pikirannya, maupun jiwanya, semuanya bernilai ketaatan (ibadah). Sebab manusia tercipta hanya untuk tujuan itu.[i] Dengan demikian, kepentingan tugas harus lebih didahulukan.

Dari sini bukan berarti muslim hidup harus selalu bertugas (ibadah) setiap waktu dengan mengabaikan urusan pribadi. Namun, disamping kepentingan tugas dilakukan sesuai dengan kadar puncak kemampuannya, kepentingan pribadi juga diperhatikan secara tawassuth (wajar). 

Selasa, 15 Januari 2013

Al-Furqon, Ketangguhan dalam Krisis Identitas

Oleh: Abi Ihya' Ulumiddin
Pengasuh Ma'had Nurul Haromain Pujon Malang
 
"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Alloh, Kami akan memberikan kepadamu Furqon. Dan Kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Alloh mempunyai karunia yang besar" (Al-Anfal: 29)

Analisa Bahasa

Furqon: Banyak ahli tafsir menyebutkan maknanya adalah jalan keluar di dunia dan akhirat. Ibnu Abbas Rodliyallohu 'Anhu menafsirkan ia adalah keselamatan atau kemenangan. Ibnu Ishaq menafsirkannya sebagai pemisah antara haq dan bathil. Imam Ibnu Katsir mengatakan: Tafsiran Ibnu Ishaq lebih umum dan mencakup semua tafsiran sebab orang yang bertaqwa kepada Alloh dengan menjalankan perintah-perintahNya dan meninggalkan larangan-laranganNya akan mendapatkan Taufiq sehingga bisa mengetahui yang haq dari yang bathil di mana hal ini menjadi sebab kemenangan, keselamatan dan jalan keluar...

Analisa Ayat

Dunia adalah tempat fitnah (ujian). Manusia menjalani hidup dari satu lingkaran fitnah menuju lingkaran fitnah yang lain. Tidak ada seorangpun bisa melepaskan diri dari sergapan fitnah kehidupan dunia. Dari kesenangan menuju pada sesuatu yang tidak menyenangkan dan dari kesusahan beralih kepada hal yang menggembirakan. Begitu seterusnya selama manusia menjalani kehidupan ini.


"Dan Kami selalu menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai fitnah (ujian)" (Al-Anbiya': 35)
 

Jumat, 09 November 2012

Ayat Nan Indah


“Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu….”(QS. Al-Baqarah: 216)

Perumpamaan 


Jeruk itu terkadang asam, namun ketika ditambah gula dan sedikit es ia berubah menjadi minuman yang menyegarkan. Begitu pula orang cerdas, pintar dan bijak mampu mengubah kerugian, penderitaan, penyakit, kesedihan dan lainnya menjadi kebahagiaan dan keberuntungan. Sebaliknya orang yang tidak mau berfikir akan membuat penderitaan itu semakin besar. Jangan selalu anggap bahwa musibah yang datang itu dianggap ujian saja, Karena biasanya dianggap sepele. Anggap saja semua musibah itu hukuman Alloh kepada kita, karena pastinya kita akan selalu bertaubat.


Kalau Anda Terpuruk

Kalau anda terpuruk, tidak mau beranjak dari tempat anda, maka musibah itu akan semakin sakit, sakit dan sakit. Apalagi yang terus menyimpan deritanya dalam hati. Pastilah kesakitan itu membengkak, dan jangan heran hati timbul suudh-dhon, penuh kebencian, semua yang dilakukan orang lain salah, banyak komplain, apapun yang dilakukan menyakitkan orang lain. Ada kemarahan dalam semua tindakannya. Kalau sudah begini dengan apa disembuhkan ??? Tidak ada obatnya kecuali dia sendiri yang harus mengobati nya… karena tidak ada yang sayang pada diri sendiri kecuali diri kita sendiri…..


Rabu, 07 November 2012

Hati Yang Paling Dicintai Alloh



Oleh: KH. Moh. Idris Jauhari

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
أَلَا وَإِنَّ لِلَّهِ أَوَانِي فِي أَرْضِهِ وَهِيَ قُلُوْبُ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ, فَأَحَبُّ الْأَوَانِي إِلَى اللهِ تَعَالَى أَصْفَاهَا وَأَصْلَبُهَا وَأَرَقُّهَا, أَصْفَاهَا مِنَ الذُّنُوْبِ وَأَصْلَبُهَا فِي الدِّيْنِ وَأَرَقُّهَا عَلَى الْإِخْوَانِ (رواه الطبراني)
Rosululloh Shollallohu’Alaihi wa Sallam bersabda:
“Sungguh Alloh memiliki bejana-bejana di muka bumi, yaitu kalbu-kalbu para hamba-Nya yang sholih. Yang paling dicintai oleh Alloh dari bejana-bejana itu adalah yang paling bersih, paling keras, dan paling lembut. Paling bersih dari dosa, paling keras dalam urusan agama, dan paling lembut terhadap saudara-saudaranya (sesama muslim).” (HR. Thobaroni)

                Hati orang-orang yang sholih adalah bejana Alloh di muka bumi. Sebagai milik Alloh Subhanahu wa Ta’ala, sudah pasti bejana-bejana itu terbaik dan berkualitas tinggi. Bejana-bejana itu mampu menampung sekian banyak kebaikan, anti kemaksiatan, dan tahan terhadap berbagai goncangan.
                Ya, hanya hati orang-orang yang sholih yang layak menjadi bejana milik Alloh. Karena hati mereka senantiasa bertabur cahaya iman dan keyakinan kepada Alloh.
                Dari sekian banyak karakter hati orang-orang sholih, tiga di antaranya yang paling dicintai. Yaitu yang paling bersih dari dosa, paling keras dalam urusan agama, dan paling lembut terhadap saudara-saudaranya sesama muslim.

Bersih Dari Dosa
                Hati memiliki sifat fluktuatif. Kadang bersih, kuat, bercahaya, dan lemah lembut. Di lain waktu, hati kadang kotor, penuh maksiat, gelap gulita, dan keras membatu. Sifat hati yang pasang surut itu sesuai penamaannya. Dalam bahasa Arab, hati disebut qolb. Penamaan itu disebabkan seringnya hati berbolak-balik. Pasang surut. Tiada tetap. Karena itu, wajar jika hati penuh dengan noda dosa.