Akal
bisa menopang keimanan dalam hati dan menjadikannya sebagai pondasi
keimanan yang kuat, meski tidak sepenuhnya dan bukan segala hal dalam
proses keimanan pada Alloh harus dibuktikan dengan akal.
Namun Mengimani Alloh dan adanya wujud Alloh merupakan hal yang bisa dinalar dan dibuktikan dengan akal.
1. Beragama adalah naluri setiap manusia. Menyembah Tuhan yang selalu ia percaya, maka akan terjadi
kerancuan dan tidak masuk akal jika aturan menyembah Tuhan diatur
sendiri seenaknya oleh setiap orang yg menyembahnya, maka mau tidak mau
aturan tersebut harus datang langsung dari Tuhan yang disembah.
2.
Dan untuk menyampaikan aturan tersebut, tentunya harus ada yang namanya
utusan. Penyampai risalah Tuhan kepada seluruh manusia. yang disbut
dengan Rosululloh
3. Adapun penyampaian Risalah Tuhan tersebut
kepada para Rosul, terdapat makhluk khusus yang diutus menjadi perantara
Tuhan dan RosulNya yang disebut dengan Malaikat.
4. Membahas
risalah Tuhan yang diturunkan, aturan-aturan keberagamaan yang
disampaikan para Rosul, terbentuk dan terkumpul dalam sebuah kitab suci
yang disebut Al-Qur'an. Terdapat 3 hal dalam nalar akal untuk bisa
membuktikan kebenaran dan keotentikan Al-Qur'an, mengingat Al-Qur'an
menggunakan tata bahasa Arab, maka logika yang kita temukan:
a.
Al-Qur'an dibuat dan dikarang oleh orang Arab, hal ini bathil dan tidak
masuk akal, mengingat terdapat sebuah ayat di dalamnya yang berisi
tantangan kepada seluruh orang Arab untuk membuat tandingan ayat semisal
Al-Qur'an
b. Al-Qur'an diciptakan oleh Rosululloh, hal ini juga
bathil dan tidak masuk akal. Karena selama orang Arab tidak bisa
menandingi keindahan ayat Al-Qur'an, maka Rosululloh pun selaku orang
Arab juga tidak bisa menciptakannya. Dan hal ini juga beliau buktikan
dengan perbedaan mendasar dalam 2 kalam yang sama-sama keluar dari lisan
beliau, yaitu Al-Qur'an dan Hadits.
c. Al-Qur'an berasal dari
Alloh, Tuhan semesta alam. Penguasa segala keindahan. Jika 2 hal di atas
tidak bisa menciptakan Al-Qur'an, maka logika terakhir Al-Qur'an
berasal langsung dari Alloh. Mengingat bahasa Al-Qur'an menggunakan
bahasa tertinggi dan terhalus dalam tatanan bahasa Arab.
Dari
penalaran akal inilah, manusia bisa membuktikan kebenaran adanya Alloh
sehingga dengannya bisa mengantarkan dirinya pada keimanan terhadap
adanya hal-hal ghaib yang termaktub dalam Al-Qur'an, Hadits Qoth'i dan
Hadits-hadits Ahad, penjelasan perihal alam ghoib yang kasat mata dan
tak terjangkau oleh indera.
Renungan Kehidupan
(Ta'lim Abi, pkl. 06.58)
Tampilkan postingan dengan label Taushiyah Abi Ihya'. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taushiyah Abi Ihya'. Tampilkan semua postingan
Rabu, 18 September 2013
Potensi kehidupan manusia
Sebuah
bentuk kesempurnaan Islam yang telah disiapkan Alloh Subhanahu wa
Ta'ala untuk para hambanya dalam mengkondisikan hidup terkait
pengendalian potensi hidup yang dimiliki manusia. Potensi kehidupan yang
membawa manusia menuju 2 maqom yang disebutkan oleh para ulama sebagai
maqom tertinggi, sehingga malaikatpun segan dan menghormatinya, atau
maqom terendah sehingga setanpun malas berkawan dan mendekatinya.
Potensi kehidupan tersebut terbagi menjadi 2 hal, dikategorikan dalam bentuk akibat yang dimilikinya.
1. Potensi hidup alami yang tumbuh dari dalam diri, tanpa membutuhkan pendorong. Menuntut pemenuhan dengan segera (secara darurat). Jika tidak dilakukan akan mengakibatkan dampak fatal berupa kematian. Contoh: Makan, minum, tidur, buang hajat, dll.
2. Potensi hidup yang berasal dari luar diri, dan membutuhkan pendorong (melalui pemikiran atau realita yang terindra). Tidak menuntut pemenuhan dengan segera. Karena jika tidak dilakukan, tidak berakibat fatal namun hanya menyebabkan keresahan dan kegelisahan perasaan dalam diri, hal inilah yang kemudian para ulama menyebutnya sebagai Ghorizah (Naluri/insting). Contoh: Mencintai lawan jenis, hidup kaya, dll.
3 pembagian Ghorizah:
1. Ghorizah Nau' (Naluri menyukai lawan jenis), terdorong dari indera yang memperhatikan, terekam dalam pikiran hingga menggelitik perasaan
2. Ghorizah Tadayyun (Naluri beragama), terdorong dari perhatian indra terhadap ayat-ayat Alloh, tersirat maupun tersurat. tafakkur memikirkan dan teresap baik ke dalam hati. Sehingga darinya muncullah ketaatan, rasa takut dan keinginan untuk selalu terhubung kepada Alloh.
3. Ghorizah Baqo' (Naluri Bertahan Hidup)
Alangkah baiknya, bila pribadi setiap Muslim mengarahkan segala potensi hidup yang dimilikinya kepada Ghorizah Tadayyun, berusaha mencari pendorong yang kuat kepadanya. Karena hanya ghorizah (naluri) tersebut yang mampu membawa manusia menuju kebahagiaan hidup di dunia maupun di akhirat.
Renungan Kehidupan
(Ta'lim Abi, 12 September 2013 pkl. 06.10)
Potensi kehidupan tersebut terbagi menjadi 2 hal, dikategorikan dalam bentuk akibat yang dimilikinya.
1. Potensi hidup alami yang tumbuh dari dalam diri, tanpa membutuhkan pendorong. Menuntut pemenuhan dengan segera (secara darurat). Jika tidak dilakukan akan mengakibatkan dampak fatal berupa kematian. Contoh: Makan, minum, tidur, buang hajat, dll.
2. Potensi hidup yang berasal dari luar diri, dan membutuhkan pendorong (melalui pemikiran atau realita yang terindra). Tidak menuntut pemenuhan dengan segera. Karena jika tidak dilakukan, tidak berakibat fatal namun hanya menyebabkan keresahan dan kegelisahan perasaan dalam diri, hal inilah yang kemudian para ulama menyebutnya sebagai Ghorizah (Naluri/insting). Contoh: Mencintai lawan jenis, hidup kaya, dll.
3 pembagian Ghorizah:
1. Ghorizah Nau' (Naluri menyukai lawan jenis), terdorong dari indera yang memperhatikan, terekam dalam pikiran hingga menggelitik perasaan
2. Ghorizah Tadayyun (Naluri beragama), terdorong dari perhatian indra terhadap ayat-ayat Alloh, tersirat maupun tersurat. tafakkur memikirkan dan teresap baik ke dalam hati. Sehingga darinya muncullah ketaatan, rasa takut dan keinginan untuk selalu terhubung kepada Alloh.
3. Ghorizah Baqo' (Naluri Bertahan Hidup)
Alangkah baiknya, bila pribadi setiap Muslim mengarahkan segala potensi hidup yang dimilikinya kepada Ghorizah Tadayyun, berusaha mencari pendorong yang kuat kepadanya. Karena hanya ghorizah (naluri) tersebut yang mampu membawa manusia menuju kebahagiaan hidup di dunia maupun di akhirat.
Renungan Kehidupan
(Ta'lim Abi, 12 September 2013 pkl. 06.10)
Terasing... Siapa Takut..?
Islam
datang dalam keadaan terasing, dan akan kembali dalam keadaan terasing.
Maka beruntunglah bagi orang-orang yang terasing... (HR. Al-Bazzar)
Terasing, termusuhi dan dijauhi karena berusaha mengikuti para ulama yang gigih dalam menghidupkan dan menyebarkan sunnah-sunnah Rosululloh...
Berusaha menjauhkan diri dari para ulama' Suu', golongan yang disebut Rosululloh sebagai makhluk terburuk (syarrul kholq). Penyebar kesesatan, paham-paham miring yang merusak kemurnian Islam, yang mematikan sunnah-sunnah Rosululloh yang agung.
Dan merupakan golongan yang disebut para ulama' sebagai golongan yang jauh lebih berbahaya daripada setan. Karena sedikit demi sedikit mereka bisa mengikis keyakinan dan kepercayaan kepada Islam dari hati para makhluk. Na'udzubillah min dzalik
Renungan Kehidupan
(Ta'lim Abi, 11 September 2013 pkl. 07.20)
Terasing, termusuhi dan dijauhi karena berusaha mengikuti para ulama yang gigih dalam menghidupkan dan menyebarkan sunnah-sunnah Rosululloh...
Berusaha menjauhkan diri dari para ulama' Suu', golongan yang disebut Rosululloh sebagai makhluk terburuk (syarrul kholq). Penyebar kesesatan, paham-paham miring yang merusak kemurnian Islam, yang mematikan sunnah-sunnah Rosululloh yang agung.
Dan merupakan golongan yang disebut para ulama' sebagai golongan yang jauh lebih berbahaya daripada setan. Karena sedikit demi sedikit mereka bisa mengikis keyakinan dan kepercayaan kepada Islam dari hati para makhluk. Na'udzubillah min dzalik
Renungan Kehidupan
(Ta'lim Abi, 11 September 2013 pkl. 07.20)
Fase Dakwah Rosululloh
4 Fase Dakwah Rosululloh:
1. Dakwah sembunyi-sembunyi selama 3 tahun
2. Dakwah dengan penyampaian secara terang-terangan tanpa perang hingga saat hijroh
3. Dakwah dengan bergerak memerangi orang-orang yang melampaui batas dan orang-orang yang terlebih dahulu memulai perang hingga terjadinya Perjanjian Hudaibiyah
4. Dakwah dengan memerangi orang-orang yang menghadang dan merintangi jalan dakwah ilalloh
Renungan Kehidupan
(Ta'lim Abi, 10 September pkl. 06.35)
1. Dakwah sembunyi-sembunyi selama 3 tahun
2. Dakwah dengan penyampaian secara terang-terangan tanpa perang hingga saat hijroh
3. Dakwah dengan bergerak memerangi orang-orang yang melampaui batas dan orang-orang yang terlebih dahulu memulai perang hingga terjadinya Perjanjian Hudaibiyah
4. Dakwah dengan memerangi orang-orang yang menghadang dan merintangi jalan dakwah ilalloh
Renungan Kehidupan
(Ta'lim Abi, 10 September pkl. 06.35)
Kamis, 28 Maret 2013
IHTIMAM; ANTARA TUGAS DAN PRIBADI
Oleh: Abi Ihya' Ulumiddin
Taushiyah Vol. 1 Edisi 1
Di dunia ini seorang muslim dihadapkan pada banyak kepentingan yang
menuntut perhatiaannya. Baik kepentingan yang sifatnya menuju ketaatan kepada
Alloh swt maupun kepentingan sebaliknya, yang pelaksanaannya tidak bernilai
pahala bahkan sia-sia. Diantara kepentingan yang ada itu dapat tersimpulkan
menjadi dua bagian: kepentingan tugas dan kepentingan pribadi. Kepentingan
tugas maksudnya kepentingan dimana seorang muslim harus bertanggung jawab menjalankan
ketaatan kepada TuhanNya dalam segala bentuknya. Sedangkan kepentingan pribadi
merupakan kebalikannya.
Terhadap dua kepentingan itu, seorang muslim harus bisa memilih dan memilah mana kepentingan tugas dan mana kepentingan pribadi.Sehingga setiap langkahnya dalam memperhatikan (ihtimam) tiap-tiap kepentingan itu, baik dengan uangnya, tenaganya, pikirannya, maupun jiwanya, semuanya bernilai ketaatan (ibadah). Sebab manusia tercipta hanya untuk tujuan itu.[i] Dengan demikian, kepentingan tugas harus lebih didahulukan.
Dari sini bukan berarti muslim hidup harus selalu bertugas (ibadah) setiap waktu dengan mengabaikan urusan pribadi. Namun, disamping kepentingan tugas dilakukan sesuai dengan kadar puncak kemampuannya, kepentingan pribadi juga diperhatikan secara tawassuth (wajar).
Taushiyah Vol. 1 Edisi 1
Terhadap dua kepentingan itu, seorang muslim harus bisa memilih dan memilah mana kepentingan tugas dan mana kepentingan pribadi.Sehingga setiap langkahnya dalam memperhatikan (ihtimam) tiap-tiap kepentingan itu, baik dengan uangnya, tenaganya, pikirannya, maupun jiwanya, semuanya bernilai ketaatan (ibadah). Sebab manusia tercipta hanya untuk tujuan itu.[i] Dengan demikian, kepentingan tugas harus lebih didahulukan.
Dari sini bukan berarti muslim hidup harus selalu bertugas (ibadah) setiap waktu dengan mengabaikan urusan pribadi. Namun, disamping kepentingan tugas dilakukan sesuai dengan kadar puncak kemampuannya, kepentingan pribadi juga diperhatikan secara tawassuth (wajar).
Langganan:
Postingan (Atom)


