Tampilkan postingan dengan label Taushiyah Abi Ihya'. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taushiyah Abi Ihya'. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 September 2013

Iman dengan Akal...?

Akal bisa menopang keimanan dalam hati dan menjadikannya sebagai pondasi keimanan yang kuat, meski tidak sepenuhnya dan bukan segala hal dalam proses keimanan pada Alloh harus dibuktikan dengan akal.

Namun Mengimani Alloh dan adanya wujud Alloh merupakan hal yang bisa dinalar dan dibuktikan dengan akal.
1. Beragama adalah naluri setiap manusia. Menyembah Tuhan yang selalu ia percaya, maka akan terjadi kerancuan dan tidak masuk akal jika aturan menyembah Tuhan diatur sendiri seenaknya oleh setiap orang yg menyembahnya, maka mau tidak mau aturan tersebut harus datang langsung dari Tuhan yang disembah.
2. Dan untuk menyampaikan aturan tersebut, tentunya harus ada yang namanya utusan. Penyampai risalah Tuhan kepada seluruh manusia. yang disbut dengan Rosululloh
3. Adapun penyampaian Risalah Tuhan tersebut kepada para Rosul, terdapat makhluk khusus yang diutus menjadi perantara Tuhan dan RosulNya yang disebut dengan Malaikat.
4. Membahas risalah Tuhan yang diturunkan, aturan-aturan keberagamaan yang disampaikan para Rosul, terbentuk dan terkumpul dalam sebuah kitab suci yang disebut Al-Qur'an. Terdapat 3 hal dalam nalar akal untuk bisa membuktikan kebenaran dan keotentikan Al-Qur'an, mengingat Al-Qur'an menggunakan tata bahasa Arab, maka logika yang kita temukan:
a. Al-Qur'an dibuat dan dikarang oleh orang Arab, hal ini bathil dan tidak masuk akal, mengingat terdapat sebuah ayat di dalamnya yang berisi tantangan kepada seluruh orang Arab untuk membuat tandingan ayat semisal Al-Qur'an
b. Al-Qur'an diciptakan oleh Rosululloh, hal ini juga bathil dan tidak masuk akal. Karena selama orang Arab tidak bisa menandingi keindahan ayat Al-Qur'an, maka Rosululloh pun selaku orang Arab juga tidak bisa menciptakannya. Dan hal ini juga beliau buktikan dengan perbedaan mendasar dalam 2 kalam yang sama-sama keluar dari lisan beliau, yaitu Al-Qur'an dan Hadits.
c. Al-Qur'an berasal dari Alloh, Tuhan semesta alam. Penguasa segala keindahan. Jika 2 hal di atas tidak bisa menciptakan Al-Qur'an, maka logika terakhir Al-Qur'an berasal langsung dari Alloh. Mengingat bahasa Al-Qur'an menggunakan bahasa tertinggi dan terhalus dalam tatanan bahasa Arab.

Dari penalaran akal inilah, manusia bisa membuktikan kebenaran adanya Alloh sehingga dengannya bisa mengantarkan dirinya pada keimanan terhadap adanya hal-hal ghaib yang termaktub dalam Al-Qur'an, Hadits Qoth'i dan Hadits-hadits Ahad, penjelasan perihal alam ghoib yang kasat mata dan tak terjangkau oleh indera.

Renungan Kehidupan
(Ta'lim Abi, pkl. 06.58)

Potensi kehidupan manusia

Sebuah bentuk kesempurnaan Islam yang telah disiapkan Alloh Subhanahu wa Ta'ala untuk para hambanya dalam mengkondisikan hidup terkait pengendalian potensi hidup yang dimiliki manusia. Potensi kehidupan yang membawa manusia menuju 2 maqom yang disebutkan oleh para ulama sebagai maqom tertinggi, sehingga malaikatpun segan dan menghormatinya, atau maqom terendah sehingga setanpun malas berkawan dan mendekatinya.

Potensi kehidupan tersebut terbagi menjadi 2 hal, dikategorikan dalam bentuk akibat yang dimilikinya.
1. Potensi hidup alami yang tumbuh dari dalam diri, tanpa membutuhkan pendorong. Menuntut pemenuhan dengan segera (secara darurat). Jika tidak dilakukan akan mengakibatkan dampak fatal berupa kematian. Contoh: Makan, minum, tidur, buang hajat, dll.
2. Potensi hidup yang berasal dari luar diri, dan membutuhkan pendorong (melalui pemikiran atau realita yang terindra). Tidak menuntut pemenuhan dengan segera. Karena jika tidak dilakukan, tidak berakibat fatal namun hanya menyebabkan keresahan dan kegelisahan perasaan dalam diri, hal inilah yang kemudian para ulama menyebutnya sebagai Ghorizah (Naluri/insting). Contoh: Mencintai lawan jenis, hidup kaya, dll.

3 pembagian Ghorizah:
1. Ghorizah Nau' (Naluri menyukai lawan jenis), terdorong dari indera yang memperhatikan, terekam dalam pikiran hingga menggelitik perasaan
2. Ghorizah Tadayyun (Naluri beragama), terdorong dari perhatian indra terhadap ayat-ayat Alloh, tersirat maupun tersurat. tafakkur memikirkan dan teresap baik ke dalam hati. Sehingga darinya muncullah ketaatan, rasa takut dan keinginan untuk selalu terhubung kepada Alloh.
3. Ghorizah Baqo' (Naluri Bertahan Hidup)

Alangkah baiknya, bila pribadi setiap Muslim mengarahkan segala potensi hidup yang dimilikinya kepada Ghorizah Tadayyun, berusaha mencari pendorong yang kuat kepadanya. Karena hanya ghorizah (naluri) tersebut yang mampu membawa manusia menuju kebahagiaan hidup di dunia maupun di akhirat.

Renungan Kehidupan
(Ta'lim Abi, 12 September 2013 pkl. 06.10)

Terasing... Siapa Takut..?

Islam datang dalam keadaan terasing, dan akan kembali dalam keadaan terasing. Maka beruntunglah bagi orang-orang yang terasing... (HR. Al-Bazzar)

Terasing, termusuhi dan dijauhi karena berusaha mengikuti para ulama yang gigih dalam menghidupkan dan menyebarkan sunnah-sunnah Rosululloh...

Berusaha menjauhkan diri dari para ulama' Suu', golongan yang disebut Rosululloh sebagai makhluk terburuk (syarrul kholq). Penyebar kesesatan, paham-paham miring yang merusak kemurnian Islam, yang mematikan sunnah-sunnah Rosululloh yang agung.
Dan merupakan golongan yang disebut para ulama' sebagai golongan yang jauh lebih berbahaya daripada setan. Karena sedikit demi sedikit mereka bisa mengikis keyakinan dan kepercayaan kepada Islam dari hati para makhluk. Na'udzubillah min dzalik

Renungan Kehidupan
(Ta'lim Abi, 11 September 2013 pkl. 07.20)

Fase Dakwah Rosululloh

4 Fase Dakwah Rosululloh:
1. Dakwah sembunyi-sembunyi selama 3 tahun
2. Dakwah dengan penyampaian secara terang-terangan tanpa perang hingga saat hijroh
3. Dakwah dengan bergerak memerangi orang-orang yang melampaui batas dan orang-orang yang terlebih dahulu memulai perang hingga terjadinya Perjanjian Hudaibiyah
4. Dakwah dengan memerangi orang-orang yang menghadang dan merintangi jalan dakwah ilalloh

Renungan Kehidupan
(Ta'lim Abi, 10 September pkl. 06.35)

Kamis, 28 Maret 2013

IHTIMAM; ANTARA TUGAS DAN PRIBADI

Oleh: Abi Ihya' Ulumiddin
Taushiyah Vol. 1 Edisi 1

Di dunia ini seorang muslim dihadapkan pada banyak kepentingan yang menuntut perhatiaannya. Baik kepentingan yang sifatnya menuju ketaatan kepada Alloh swt maupun kepentingan sebaliknya, yang pelaksanaannya tidak bernilai pahala bahkan sia-sia. Diantara kepentingan yang ada itu dapat tersimpulkan menjadi dua bagian: kepentingan tugas dan kepentingan pribadi. Kepentingan tugas maksudnya kepentingan dimana seorang muslim harus bertanggung jawab menjalankan ketaatan kepada TuhanNya dalam segala bentuknya. Sedangkan kepentingan pribadi merupakan kebalikannya.

Terhadap dua kepentingan itu, seorang muslim harus bisa memilih dan memilah mana kepentingan tugas dan mana kepentingan pribadi.Sehingga setiap langkahnya dalam memperhatikan (ihtimam) tiap-tiap kepentingan itu, baik dengan uangnya, tenaganya, pikirannya, maupun jiwanya, semuanya bernilai ketaatan (ibadah). Sebab manusia tercipta hanya untuk tujuan itu.[i] Dengan demikian, kepentingan tugas harus lebih didahulukan.

Dari sini bukan berarti muslim hidup harus selalu bertugas (ibadah) setiap waktu dengan mengabaikan urusan pribadi. Namun, disamping kepentingan tugas dilakukan sesuai dengan kadar puncak kemampuannya, kepentingan pribadi juga diperhatikan secara tawassuth (wajar).