Taushiyah Vol. 1 Edisi 1
Terhadap dua kepentingan itu, seorang muslim harus bisa memilih dan memilah mana kepentingan tugas dan mana kepentingan pribadi.Sehingga setiap langkahnya dalam memperhatikan (ihtimam) tiap-tiap kepentingan itu, baik dengan uangnya, tenaganya, pikirannya, maupun jiwanya, semuanya bernilai ketaatan (ibadah). Sebab manusia tercipta hanya untuk tujuan itu.[i] Dengan demikian, kepentingan tugas harus lebih didahulukan.
Dari sini bukan berarti muslim hidup harus selalu bertugas (ibadah) setiap waktu dengan mengabaikan urusan pribadi. Namun, disamping kepentingan tugas dilakukan sesuai dengan kadar puncak kemampuannya, kepentingan pribadi juga diperhatikan secara tawassuth (wajar).
Dalam sebuah hadis[ii]
diceritakan: "Sayidina Abu Bakar saat berjumpa dengan sahabat Handzolah
bin Rabi' beliau bertanya: Bagaimana keadaanmu wahai sahabatku? Handzolah
menjawab:نافق
حنظللة (Handzolah takut dihinggapi nifaq)
Kenapa begitu? Karena kami ketika bersanding dengan Rosululloh kami ingat akan
surga dan neraka, tetapi jika kami jauh dari beliau kami juga lupa semua itu,
kami hanya ingat urusan istri, anak dan profesi. Abu Bakar berkata: "Bila
demikian maka demi Alloh aku juga melakukan seperti itu." Keduanya lalu
menghadap Rosululloh menuturkan problemnya. Lalu baginda Nabi bersabda: Bila
kalian bisa sama persis dengan saat bersanding denganku, maka malaikat akan
memulyakan kamu. Tetapi ساعة و ساعة (Wahai Handzolah, satu saat untuk beribadah
dan saat lain untuk kebutuhanmu."
Dari hadis ini , kita menyadari bahwa sebaik apapun manusia, hatinya tidak akan bisa ingat ibadah terus menerus. Hati manusia akan selalu berpindah-pindah dari dua kepentingan diatas. Seorang muslim dalam derajat minimalnya tidak akan lepas dari Ma'rifatulloh. Sedang naiknya sampai pada derajat maksimal ditentukan oleh kondisi yang menyertainya. Ulama' Ahli Ma'rifat menyebutkan:
الوجد مقرون با لزوال والمعرفة ثا بتة لا ترول
“Wajd itu di barengi dengan kehilangan sedang ma'rifat itu tetap”.[iii]
Agar tugas ketaatan senantiasa dalam derajat normal dan semangat tugas tidak kalah dengan semangat pribadi, maka diperlukan ikhtiar yang serius, untuk terciptanya kondisi yang bagus, dengan cara antara lain:
1. Ta'lim
Menambah keilmuan, keimanan, dan selanjutnya pengalaman. Ta'lim itu
ibarat santapan yang setiap hari dibutuhkan untuk menjaga stamina agar tidak
loyo. Ta'lim bertujuan memberi motivasi dan inspirasi agar selalu semangat
dalam ihtimam kepentingan tugas.
2. Mempunyai Murabbi
Murabbi berarti guru dengan syarat-syarat tertentu yang bisa mengarahkan diri menuju keselamatan dunia akhirat .kebutuhan akan murabbi itu bagaikan kebutuhan organisasi akan pimpinan ,Negara akan presiden dan kebutuhan anak ayam pada induknya.Para sahabat menjadikan baginda Nabi sebagai Murabbinya. Ketika baginda Nabi wafat mereka merasakan betul betapa pentingnya keberadaan Murabbi.[iv]
Dari keterangan di atas dapat diambil pengertian:
1. Semangat dalam
ihtimam tugas
2. Iqtishod (sedang) dalam ketaatan
3. Perlu ta’lim dan Murobbi untuk menjaga keseimbangan kepentingan tugas dan pribadi
2. Iqtishod (sedang) dalam ketaatan
3. Perlu ta’lim dan Murobbi untuk menjaga keseimbangan kepentingan tugas dan pribadi
[i] Lihat Q.S. Ad Dzariyat: 56
[ii] H.R. Imam Muslim
[iii] Wajd adalah derajat seorang muslim bisa
merasakan halawah (kelezatan) dalam menjalankan ketaatan kepada Alloh Ta'ala.
[iv] Sahabat
Anas Bin Malik berkata: "Kami telah ingkar pada hati-hati kami, padahal
kami belum melepas tangan saat mengubur baginda Nabi."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar