Kamis, 28 Maret 2013

IHTIMAM; ANTARA TUGAS DAN PRIBADI

Oleh: Abi Ihya' Ulumiddin
Taushiyah Vol. 1 Edisi 1

Di dunia ini seorang muslim dihadapkan pada banyak kepentingan yang menuntut perhatiaannya. Baik kepentingan yang sifatnya menuju ketaatan kepada Alloh swt maupun kepentingan sebaliknya, yang pelaksanaannya tidak bernilai pahala bahkan sia-sia. Diantara kepentingan yang ada itu dapat tersimpulkan menjadi dua bagian: kepentingan tugas dan kepentingan pribadi. Kepentingan tugas maksudnya kepentingan dimana seorang muslim harus bertanggung jawab menjalankan ketaatan kepada TuhanNya dalam segala bentuknya. Sedangkan kepentingan pribadi merupakan kebalikannya.

Terhadap dua kepentingan itu, seorang muslim harus bisa memilih dan memilah mana kepentingan tugas dan mana kepentingan pribadi.Sehingga setiap langkahnya dalam memperhatikan (ihtimam) tiap-tiap kepentingan itu, baik dengan uangnya, tenaganya, pikirannya, maupun jiwanya, semuanya bernilai ketaatan (ibadah). Sebab manusia tercipta hanya untuk tujuan itu.[i] Dengan demikian, kepentingan tugas harus lebih didahulukan.

Dari sini bukan berarti muslim hidup harus selalu bertugas (ibadah) setiap waktu dengan mengabaikan urusan pribadi. Namun, disamping kepentingan tugas dilakukan sesuai dengan kadar puncak kemampuannya, kepentingan pribadi juga diperhatikan secara tawassuth (wajar). 

Dalam sebuah hadis[ii] diceritakan: "Sayidina Abu Bakar saat berjumpa dengan sahabat Handzolah bin Rabi' beliau bertanya: Bagaimana keadaanmu wahai sahabatku? Handzolah menjawab:نافق حنظللة    (Handzolah takut dihinggapi nifaq) Kenapa begitu? Karena kami ketika bersanding dengan Rosululloh kami ingat akan surga dan neraka, tetapi jika kami jauh dari beliau kami juga lupa semua itu, kami hanya ingat urusan istri, anak dan profesi. Abu Bakar berkata: "Bila demikian maka demi Alloh aku juga melakukan seperti itu." Keduanya lalu menghadap Rosululloh menuturkan problemnya. Lalu baginda Nabi bersabda: Bila kalian bisa sama persis dengan saat bersanding denganku, maka malaikat akan memulyakan kamu. Tetapi ساعة و ساعة   (Wahai Handzolah, satu saat untuk beribadah dan saat lain untuk kebutuhanmu."

Dari hadis ini , kita menyadari bahwa sebaik apapun manusia, hatinya tidak akan bisa ingat ibadah terus menerus. Hati manusia akan selalu berpindah-pindah dari dua kepentingan diatas. Seorang muslim dalam derajat minimalnya tidak akan lepas dari Ma'rifatulloh. Sedang naiknya sampai pada derajat maksimal ditentukan oleh kondisi yang menyertainya. Ulama' Ahli Ma'rifat menyebutkan:
الوجد مقرون با لزوال والمعرفة ثا بتة لا ترول
“Wajd itu di barengi dengan kehilangan sedang ma'rifat itu tetap”.[iii]

Agar tugas ketaatan senantiasa dalam derajat normal dan semangat tugas tidak kalah dengan semangat pribadi, maka diperlukan ikhtiar yang serius, untuk terciptanya kondisi yang bagus, dengan cara antara lain:

1.      Ta'lim
Menambah keilmuan, keimanan, dan selanjutnya pengalaman. Ta'lim itu ibarat santapan yang setiap hari dibutuhkan untuk menjaga stamina agar tidak loyo. Ta'lim bertujuan memberi motivasi dan inspirasi agar selalu semangat dalam ihtimam kepentingan tugas.

2.      Mempunyai Murabbi
Murabbi berarti guru dengan syarat-syarat tertentu yang bisa mengarahkan  diri menuju keselamatan dunia akhirat .kebutuhan akan murabbi itu bagaikan kebutuhan organisasi akan pimpinan ,Negara akan presiden dan kebutuhan anak ayam pada induknya.Para sahabat menjadikan baginda Nabi sebagai Murabbinya. Ketika baginda Nabi wafat mereka merasakan betul betapa pentingnya keberadaan Murabbi.[iv]
Dari keterangan di atas dapat diambil pengertian:
1.      Semangat dalam ihtimam tugas
2.      Iqtishod (sedang) dalam ketaatan
3.     Perlu ta’lim dan Murobbi untuk menjaga keseimbangan kepentingan tugas dan pribadi



[i] Lihat Q.S. Ad Dzariyat: 56
[ii] H.R. Imam Muslim
[iii] Wajd adalah derajat seorang muslim bisa merasakan halawah (kelezatan) dalam menjalankan    ketaatan kepada Alloh Ta'ala.
[iv]  Sahabat Anas Bin Malik berkata: "Kami telah ingkar pada hati-hati kami, padahal kami belum melepas tangan saat mengubur baginda Nabi."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar