Oleh: Abi Ihya' Ulumiddin
Pengasuh Ma'had Nurul Haromain Pujon Malang
"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Alloh, Kami
akan memberikan kepadamu Furqon. Dan Kami akan jauhkan dirimu dari
kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Alloh mempunyai
karunia yang besar" (Al-Anfal: 29)
Analisa Bahasa
Furqon:
Banyak ahli tafsir menyebutkan maknanya adalah jalan keluar di dunia
dan akhirat. Ibnu Abbas Rodliyallohu 'Anhu menafsirkan ia adalah
keselamatan atau kemenangan. Ibnu Ishaq menafsirkannya sebagai pemisah
antara haq dan bathil. Imam Ibnu Katsir mengatakan: Tafsiran Ibnu Ishaq
lebih umum dan mencakup semua tafsiran sebab orang yang bertaqwa kepada
Alloh dengan menjalankan perintah-perintahNya dan meninggalkan
larangan-laranganNya akan mendapatkan Taufiq sehingga bisa mengetahui
yang haq dari yang bathil di mana hal ini menjadi sebab kemenangan,
keselamatan dan jalan keluar...
Analisa Ayat
Dunia adalah
tempat fitnah (ujian). Manusia menjalani hidup dari satu lingkaran
fitnah menuju lingkaran fitnah yang lain. Tidak ada seorangpun bisa
melepaskan diri dari sergapan fitnah kehidupan dunia. Dari kesenangan
menuju pada sesuatu yang tidak menyenangkan dan dari kesusahan beralih
kepada hal yang menggembirakan. Begitu seterusnya selama manusia
menjalani kehidupan ini.
"Dan Kami selalu menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai fitnah (ujian)" (Al-Anbiya': 35)
Jadi
musibah dunia adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindarkan
oleh siapa saja termasuk para nabi dan para utusan 'alaihimussalam
khususnya Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam. Bahkan disebutkan
bahwa manusia yang paling berat ujian dunianya adalah para nabi, orang
yang serupa dan orang yang serupa. Kendati demikian fitnah dunia dimulai
dari yang besar dan berangsur-angsur mengecil.
Ingatlah firman Alloh,
"Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan" (Asy-Syarh: 5-6).
Ini
berbeda dengan fitnah agama yang pada awalnya kecil tetapi terus
bergerak mengembang sehingga menjadi besar. Semakin lama semakin besar
laksana malam hari yang terus merambat dari gelap waktu maghrib, waktu
'isya', hingga waktu setelah tengah malam. Inilah hikmah dari do'a
Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam:
ولا تجعل مصيبتنا في ديننا
"Dan jangan jadikan musibah kami dalam agama kami" (HR. Tirmidzi, Hakim dari Ibnu Umar Rodliyallohu 'Anhu)
Dalam
kondisi seperti ini, manusia beriman mutlak memerlukan secercah cahaya
untuknya membedakan warna di waktu malam gulita. Manusia beriman tidak
hanya cukup bersandar kepada kemampuan diri-sendiri dalam memilah
kebaikan di antara sekian banyak keburukan. Ini karena pada masa seperti
sekarang ini kebaikan dan keburukan tampil dalam performa yang nyaris
sama dan bahkan keburukan justru tampil dalam rupa yang lebih menggoda.
Manusia
beriman perlu mendapatkan Al-Furqon, cahaya dan bimbingan dari langit.
Cahaya dan bimbingan Alloh 'Azza wa Jalla. Cahaya dan bimbingan ini
merupakan garansi yang diberikan oleh Alloh kepada para hamba yang
bertaqwa sebagaimana ditegaskan ayat di atas dan juga firman Alloh 'Azza
wa Jalla:
"Hai orang-orang yang beriman (kepada Alloh dan Rosul),
bertaqwalah kepada Alloh dan berimanlah kepada RosulNya, niscaya Alloh
memberikan rahmatNya kepadamu dua bagian, fan menjadikan untukmu cahaya,
yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan
Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (Al-Hadid: 28)
Dengan
Al-Furqon seseorang akan mampu melangkah ke arah yang benar saat berada
di persimpangan jalan. Al-Furqon juga memancarkan ketegasan dan
ketangguhan pada seseorang dalam memegang prinsip dan mempertahankan
identitas sehingga tidak berbuat latah meski harus berhadapan dengan
tekanan begitu dahsyat yang datang dari semua pihak.
Al-Furqon
inilah yang menampak dengan jelas pada diri Rosululloh Shollallohu
'Alaihi wa Sallam ketika menerima tawaran dari orang-orang kafir
bagaimana jika kamu menyembah Tuhan kami selama setahun dan kami
menyembah Tuhanmu selama setahun. Bahkan ketika orang-orang kafir itu
menawarkan harta benda, kedudukan dan wanita dengan catatan Beliau
menghentikan dakwah, maka Beliau dengan sangat mantap menjawab,
"Demi
Alloh, andai mereka meletakkan matahari di sisi kananku dan rembulan di
sisi kiriku agar aku meninggalkan urusan ini niscaya aku tidak akan
pernah meninggalkannya".
Al-Furqon seperti artinya, pembeda, akan
memberikan stimulan sangat kuat bagi manusia beriman sehingga muncul
keinginan dan tekad bulat untuk bisa berbeda dengan kaum kafir dalam
segala hal.
Adalah Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam sangat
berharap agar kiblat kaum muslimin tidak sama dengan kaum Yahudi
sehingga akhirnya turunlah wahyu supaya kaum muslimin beralih menghadap
masjidil harom. Beliau juga memberikan perintah kepada kaum muslimin
agar berpuasa pada tanggal sembilan (Tasu'a) dan sepuluh Muharrom agar
berbeda dengan Yahudi yang berpuasa pada tanggal sepuluh Muharrom
('Asyuro'). Ketika menentukan pemberitahuan masuknya waktu sholat dan
panggilan berjama'ah ada beberapa usulan masuk; ada yang mengusulkan
menggunakan api, ada yang usul menggunakan genderang dan ada pula yang
usul dengan lonceng. Usulan-usulan ini tidak disepakati oleh forum
Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam dan para shohabat karena api
menyerupai kaum Majusi, genderang menyerupai Yahudi, dan lonceng
menyerupai Nashrani.
Al-Furqon, inilah yang juga menampak pada diri
pribadi ulama masa lalu bangsa ini. Di era penjajahan para ulama
menelorkan hukum haram memakai celana dan segala yang berbau penjajah
barat karena dengan memakai celana, berarti sama dengan mereka. Dalam
ranah politikpun demikian, umat Islam Indonesia masa lalu masih mampu
menampilkan identitas dengan memunculkan partai yang berlandaskan Islam,
Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) dan secara tegas dan
terang-terangan bertolak belakang dan berlawanan dengan partai Nasakom
(Nasionalis, Sekuler dan Komunis), sebuah ideologi gubahan sang
proklamator Soekarno yang dari sisi pemikiran berkiblat kepada Musthafa
Kamal At-Taturk, yahudi penghancur khilafah Turki Utsmani.
Di era
Orba, Nasakom memang tinggal sejarah, tetapi ideologinya masih tetap
diusung oleh para pewarisnya: yaitu partai-partai Nasionalis. Dan di
sinilah mulai terjadi pergeseran di mana sebagian besar umat Islam
justru berafiliasi ke dalam partai-partai tersebut. Bahkan sebagian
ulamanya dengan berani mengadakan ritual do'a bersama atas nama
kerukunan antar umat beragama. Al-Furqon, idealitas dan identitas
manusia beriman dalam kondisi tertentu memang dipaksa harus ditinggalkan
oleh kekuatan setan dalam wujud manusia. Betapapun pada kala itu masih
tersisa satu partai Islam, akan tetapi tangan besi penguasa memaksa
semua partai menggunakan azas tunggal pancasila. Bahkan ormas Islam
terbesar ketika itu juga menanggalkan identitas Islam dan menggantinya
dengan azas pancasila.
Pada era reformasi, sistem multi partai
semakin menjadikan sinar Al-Furqon dalam diri manusia beriman bias. Dari
kalangan elit sampai wong alit semuanya mulai menjauh dari identitas
Islamnya. Jika di era orde lama dan orde baru tidak pernah ditemukan
kenangan presiden yang notabenenya beragama Islam hadir dalam perayaan
umat lain, maka di era reformasi kita mendapatkan seorang presiden hadir
di tengah perayaan natal, memberikan sambutan sekaligus mendorong agar
natal juga dirayakan oleh umat Islam. Di era multi partai demikian pula
halnya, presiden yang diformalitaskan sebagai seorang religius ternyata
hadir dan ikut bersama dalam perayaan waisak di candi borobudur.
Era
multi partai, juga membiaskan sinar Furqon dalam diri mayoritas pemilih
Islam. Partai-partai dengan platform Islam ternyata kurang diminati
dengan berbagai macam alasan. Akibat partai Islam menjadi partai gurem
yang jika tidak ingin kehilangan kekuasaan mereka terpaksa harus
berkoalisi dengan partai-partai lain yang secara prinsip dan platform
memiliki perbedaan yang cukup mendasar. Dalam koalisi ini tidak lagi
dibicarakan ideologi partai sama sekali. Kepentingan kekuasaan
ditempatkan begitu tinggi sehingga mengorbankan prinsip-prinsip yang
selama ini selalu didendangkan dalam segala kesempatan. Sangat lucu
ketika partai berazaskan Islam dengan alasan kekuasaan harus bergandeng
tangan dengan partai kafir hanya demi bersaing dengan sesama partai
Islam. Dalam kondisi seperti ini di manakah ciri khas manusia beriman
yang disebut oleh Al-Qur'an sebagai saling mengasihi di antara sesama
mereka dan bertindak tegas dengan umat selain mereka?
Keberadaan
Furqon sebagai pahala bagi orang yg bertaqwa sewaktu di dunia di satu
sisi juga bisa dipahami bahwa manusia yang enggan berjuang
mempertahankan identitas, ideologi dan prinsip agamanya adalah manusia
yang jauh dari standar ketaqwaan.
Wallohul muwaafiq
Tidak ada komentar:
Posting Komentar