Kamis, 18 Oktober 2012

Apakah Hati Kita Masih Hidup?


KH. Ihya’ Ulumiddin
Pengasuh Pondok Pengembangan dan Dakwah Nurul Haromain Pujon Malang


Alloh Tabaaraka wa Ta’ala berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Alloh dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan (hati) kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allohmembatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan". QS. Al Anfaal: 24

Hati yang hidup merupakan sisi pandang Alloh Ta'ala sekaligus sasaran saputan cahayaNya. Tanpa hati yang hidup, dan ramai oleh iman serta kilau keyakinan ini, manusia sebenarnya telah mati meski masih berada di kalangan orang-orang yang hidup. Alloh ta'alaa berfirman:

"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?...  QS. Al An'aam: 122.

Atas dasar inilah tarbiyah kita dalam jamaah ini mengarah kepada pelestarian kehidupan hati agar tidak mati, memakmurkannya supaya tidak sepi dan melunakkannya agar tidak keras (tandus). Sungguh Alloh telah menegur ahli iman dengan firmanNya:

"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk (luluh) hati merekamengingat Alloh dan kepada kebenaran yang telah turun kepada mereka..." QS. al Hadiid: 16.  

Selasa, 16 Oktober 2012

Ketika Rasa Itu Mulai Padam


Tak banyak yang bisa kukatakan.
Karena hari ini tak banyak yang bisa kutemukan, tak lebih dari apa yang pernah kudapatkan
Mungkin adanya sebuah keinginan
Yang coba hantarkanku keluar dari lubang kegelapan
Namun aku sadar hal itu tak bertahan lama, karena lampu yang kuciptakan tak sekuat gelap yang telah lama menyerang
Hanya matahari-lah yang bisa selesaikan
Ya kupikir hanya itu...!
Namun, bagaimana bisa aku menggapai kejernihannya,
Sedang aku tak pernah berani tuk coba sejuk sinarnya.
Aku tak pernah mampu dan takkan pernah bisa tampakkan wajah asliku tuk gapai sinar cerahnya
Menyesalkah aku...?
Atau mungkinkah hal itu...?
Tak ada yang tak mungkin dilakukan, seperti halnya tak ada yang tak mungkin di dunia fana yang kelam.
Hanya jalan yang kubutuhkan
Jalan tuk menggapai kesejukan sinar
Cara tuk mencapai kejernihan hati dan pikiran...!
How...?

Jangan hilang & lepas dari indukmu...!


Semoga tidak ada satupun dari kalian yang menyeleweng, nyeleneh dan keluar dari prinsip-prinsip ini. Juga tidak keluar dari pemikiran dan akhlâq islâmiyah. Termasuk prinsip hubungan dengan lain jenis yang islami, dan hubungan antargolongan lain yang islami. Terutama menghadapi liberalisme dalam segala aspek kehidupan. Semoga Allah selalu bersama kita, selalu bersama kalian, wahai pahlawanku. Jadilah manusia berguna, dan bukan manusia yang hilang dan lepas dari induknya. (Sebagian Pesan terakhir Almaghfur lahu KH. Tidjani Djauhari, MA)

Baik mana antara bekas penjahat dengan bekas santri...?

Pertanyaan inilah yang harusnya tetap melekat dalam hati sanubari kita...!

Apa maksudnya? Apa makna yang harus kita kaji? Untuk apa juga kita kaji?

Bekas penjahat, sebuah perubahan dari negatif menuju positif
Bekas santri sebaliknya, dari positif menuju negatif

Sekarang tinggal menilai dari diri kita sendiri...! manakah jalan yang kita pilih?
Menjadi seorang yang diridloi Alloh dalam hidupnya, atau seorang yang hilang & lepas dari induknya...?
Renungkanlah kawan...! (ingatkan juga saudara2 kita yang tengah lupa...!)

Cermin


Sharing akan slah satu nikmat Alloh yg berisi hikmah dan rahasia...
Cermin...
Sarana dan fasilitas utk kita melihat sosok diri dari bayangan yang dipantulkan cermin.
Pada cermin, kita bisa melihat sosok diri kita yang sebenarnya, gak pake dikurangi atau ditambah-tambahi.
Kita gak bisa mengingkari apa yang ditampilkan cermin tentang kita.
Ia jujur tentang diri kita.
Namun begitu pula sebaliknya, saat cermin itu berdebu atau kotor, kita pasti bersedia untuk membersihkannya, sehingga kita dan cermin sama-sama tampil bersih dan enak dipandang.
Nah inilah hikmah yg bisa kita ambil saudaraku...
Hendaknya setiap Muslim berlaku seperti cermin,
Bersikap jujur terhadap saudaranya sesama Muslim.
Yang akan mengatakan salah jika memang melakukan kesalahan, dan ia akan mengoreksinyadengan memberi nasihat-nasihat yang membangun serta mengajaknya kembali ke jalan yang benar.
Adapun jika saudaranya melakukan kebenaran, ia akan mendukung.
Begitu juga sebaliknya, jika ada saudaranya memberikan nasihat kebajikan kepadanya, ia mau menerimanya dengan senang hati.
Dengan demikian, hidup akan menjadi indah, penuh harmoni, dan pengertian.
Sebagaimana yg diajarkan Nabi, dan sudah kita pahami teori2nya.
So, ikhwani... masih mo nunggu apa lagi utk peduli ma saudara2 yg laen...?