Kamis, 17 Januari 2019

BERADAB DALAM SETIAP KEADAAN, PELAJARAN BERHARGA DARI PARA UTUSAN


لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجوا الله واليوم الآخر وذكر الله كثيرا
“Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rohmat) Alloh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Alloh.” (Al-Ahzab: 21)

Dalam kitabnya, “Tafsir Al-Qur’an Al-Adhim” berkata Imam Ibnu Katsir mengenai ayat tersebut,
“Ayat ini merupakan landasan utama dalam meneladani Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam dalam setiap perkataan, perbuatan dan tingkah laku atau keadaan beliau. Karena itulah, Alloh Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan pada semua manusia untuk meneladani Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam dalam kesabaran, keteguhan, kesungguhan dan kesiagaan beliau, serta kesabarannya dalam menanti kelapangan dari Alloh ‘Azza wa Jalla. Karena itulah Alloh berfirman pada mereka yang gelisah, merasa takut, dan kebingungan dalam urusan mereka di hari peristiwa Ahzab (Perang Ahzab/Khondaq) dengan sebuah ayat: (Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri teladan yang baik bagimu), yang bermakna: “Mengapa kalian tidak mengikutinya dan meneladani kepribadian Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam...?”
Imam Qurthuby juga menambahkan, “Makna dari Uswah adalah Qudwah, yang bermakna Keteladanan. Dan yang dimaksud Uswah dalam ayat, adalah sesuatu yang diteladani dari diri Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, serta segala sesuatu yang dinisbatkan pada beliau. Maka beliau diikuti dalam setiap perbuatannya, dan diteladani dalam setiap keadaannya. Dan sungguh telah terluka wajah beliau yang mulia, pecah gigi serinya, telah gugur pula paman beliau, serta rasa lapar telah menguasai pencernaan beliau, dan sungguh tidak ditemukan dalam jiwa beliau yang mulia kecuali rasa sabar penuh keikhlasan, dan rasa syukur penuh keridloan. Sabda Rosul di saat wajah beliau terluka, “Ya Alloh ampunilah kaumku, Sesungguhnya mereka tidak mengetahui”.”

Jumat, 01 Juni 2018

Hormatilah orang2 yg tidak berpuasa...?

Tidak lengkap rasanya bila setiap moment dan event besar kaum Muslimin Indonesia tidak diiringi dengan statemen2 kontroversial dan memancing emosi, merusak ketenangan dan kedamaian. Jika bisa kita istilahkan, gak asyik klo gak rame.

*Bulan Muharrom* muncul statement,
_"Tahun baru Islam tidak ada, hanya meniru perbuatan org kafir saja"_ Subhanalloh...

*Bulan maulid* muncul statement,
_"Maulid Nabi bid'ah, tidak ada landasan dan contoh dari Rosul dan para shohabat. Makanan yg disajikan di bulan maulid harom. Orang yg melakukan maulid lebih besar dosanya dari zina"_. Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Roji'un...

*Bulan Rojab* muncul statement,
_"Puasa Rojab, bukan puasa sunnah Rosul. Tidak ada tuntunannya"_ La Haula wa la Quwwata illa billah...

*Bulan Sya'ban* muncul statement,
_"Nishfu Sya'ban, bid'ah. Ibadah pada saat itu tidak pernah diajarkan oleh Rosul"_ Astaghfirulloh...

*Bulan Romadlon* muncul statement,
_"Ibadah Puasa, ibadah masing-masing person, maka hormatilah orang2 yg tidak berpuasa"_

Statement yg lain,

Kamis, 06 Oktober 2016

Tiga Amalan Berpahala Besar di Sisi Alloh


Edisi ke-3, Jumadil Ula 1437 H.
Untaian kalimat Alhamdulillah was-Syukru lillah wa La Haula wa La Quwwata Illa Billah harus senantiasa menghiasi hati dan bibir kita semua. Kapan saja, di mana saja dan dalam situasi apapun. Karena ini merupakan bentuk sekaligus bukti pengagungan dan kepasrahan kita kepada Alloh, Tuhan Yang Maha Esa lagi Perkasa, Yang tak tuli dan tak buta. Berkat limpahan ma’unah dan rahmatNya, sampai detik ini Alloh masih mempertemukan kita dengan hari agung dan mulia. Hari di mana banyak orang mengatakan bahwa yaumul jumu’ah sayyidul ayyam.
Sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Rosululloh, keluarga, shohabat dan pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.
Rutinitas kegiatan serta aktifitas yang kita lakukan selama ini sudah barang tentu sedikit banyak telah membuat kita terjebak pada keteledoran, kesalahan bahkan kejahatan sekalipun. Mulai dari yang terkecil, sedang, dan yang paling besar. Baik dikarenakan ketidak-sengajaan, yang direkayasa maupun sampai yang disengaja.
Karena itu merupakan fitrah dasar manusia sebagai makhluk yang tak pernah lepas dari kesalahan dan kelemahan, bahkan jika kita ingin mengharapkan kesempurnaan pribadi dari seorang teman, keluarga, orang tua maupun pemimpin, itu hal yang mustahil dan takkan pernah didapatkan hatta yaumil qiyamah. Namun yang harus senantiasa dijadikan renungan dan koreksian buat pribadi masing-masing adalah, lebih banyak manakah antara kebaikan dan kejahatan yang kita perbuat selama ini? Sudahkah kita menyadari akan setiap perbuatan yang telah dilakukan?
Namun percayalah dosa-dosa tadi senantiasa akan terkurangi bahkan terhapus dan dapat pengampunan dari Alloh kalau kita benar-benar mengoptimalkan kehidupan. Dengan mengisi amalan-amalan yang kelihatannya kecil dan ringan namun senantiasa dicintai Alloh dan berpahala besar. Amalan-amalan tersebut sebagai berikut,
Pertama, Melaksanakan Sholat

Kamis, 03 Desember 2015

Sifat Lemah-Lembut Modal Terbaik Setiap Muslim

Sifat kasih-sayang, lemah-lembut dan santun merupakan sifat-sifat yang dibutuhkan dan menjadi modal untuk sebuah adaptasi. Adaptasi yang baik dengan mencoba menepiskan, mengesampingkan egoisme dan kepentingan diri. Namun dengan tidak kemudian mengorbankan prinsip-prinsip penting dalam keberagamaan kita. Inilah yang disebut para ulama' dengan istilah Al-Mudaroh. Mengambil simpati dan mencoba berempati dengan orang lain. Mengikuti gaya tradisi mereka dengan tidak melanggar syari'at-syrai'at Alloh yang telah kita yakini sebagai sebuah aturan terbaik.

Sebaliknya, berusaha menyenangkan mereka dengan berbagai macam cara, hingga ke arah melanggar segala aturan Alloh, tidaklah kemudian dikatakan adaptasi yang baik. Bahkan hal tersebut bisa menjadi sesuatu yang menjerumuskan kita ke jurang kenistaan. Mengorbankan Alloh demi sesuatu yang kecil dan murah. Na'udzubillah min dzalik.

Rabu, 02 Desember 2015

Kisah Ahlusshuffah

"Setiap selesai sholat, Rosululloh selalu mem-posting shohabat ahlus-shuffah untuk menerima jatah makan pada shohabat lainnya" -Makna Hadits-

Ahlus-Shuffah, yaitu para shohabat yang dikenal dengan tamu-tamu Alloh. Dikarenakan mereka menempati pelataran masjid Nabawi sebagai tempat tinggal dan istirahat mereka. Golongan shohabat yang tidak memiliki harta dan apapun untuk kelangsungan hidup (golongan faqir) namun memiliki kesemangatan yang tinggi untuk menimba ilmu dan memperkokoh keimanan pada Rosululloh dan shohabat lainnya.