Sifat kasih-sayang, lemah-lembut dan santun merupakan sifat-sifat yang dibutuhkan dan menjadi modal untuk sebuah adaptasi. Adaptasi yang baik dengan mencoba menepiskan, mengesampingkan egoisme dan kepentingan diri. Namun dengan tidak kemudian mengorbankan prinsip-prinsip penting dalam keberagamaan kita. Inilah yang disebut para ulama' dengan istilah Al-Mudaroh. Mengambil simpati dan mencoba berempati dengan orang lain. Mengikuti gaya tradisi mereka dengan tidak melanggar syari'at-syrai'at Alloh yang telah kita yakini sebagai sebuah aturan terbaik.
Sebaliknya, berusaha menyenangkan mereka dengan berbagai macam cara, hingga ke arah melanggar segala aturan Alloh, tidaklah kemudian dikatakan adaptasi yang baik. Bahkan hal tersebut bisa menjadi sesuatu yang menjerumuskan kita ke jurang kenistaan. Mengorbankan Alloh demi sesuatu yang kecil dan murah. Na'udzubillah min dzalik.
Dalam dunia dakwah, menghilangkan ananiyah (keakuan), bangga diri, dan sifat sombong karena merasa diri lebih tinggi merupakan modal awal sebelum mempelajari strategi dan teori dakwah yang lain. Karena yang kita hadapi bukanlah makhluk-makhluk yang tidak beperasaan hingga mudah diatur dan diarahkan sedemikian rupa. Yang kita hadapi adalah manusia yang terkadang menolak terhadap segala sesuatu yang baru dan belum dikenal olehnya. Sebagaimana kalam para ulama' terkait hal ini,
"Manusia memusuhi segala sesuatu yang tidak diketahuinya"
Karena itulah dibutuhkan sebuah kelemah-lembutan (Ar-Rifq), kesantunan (Al-Hilm), dan perhatian yang besar untuk menarik simpati mereka. Memasukkan ajaran-ajaran Rosul dalam menjalani kehidupan dengan memancing kesadaran mereka, menyukai hal tersebut tanpa adanya paksaan. Karena sudah menjadi karakter manusia sebagai makhluk sosial yang ingin selalu mendapatkan perhatian dan kepedulian.
Salah satu strategi untuk mendapatkan sifat Ar-Rifq dan Al-Hilm ini, adalah dengan melatih aktifitas hati. Yaitu membiasakan diri dengan dzikir kepada Alloh. Mencoba untuk selalu sambung denganNya. Sebagaimana disampaikan Abuya dalam kitab beliau "Syaroful Ummah Al-Muhammadiyah",
"Dzikir bisa memperindah akhlak, melembutkan watak (yang jelek), dan memperbaiki keadaan (kondisi) seseorang"
Memperindah akhlak yang buruk dan jauh dari standar kesopanan. Menjadikan kesopanan dan kesantunan dirasa sebagai kebutuhan yang tidak boleh ditinggalkan.
Melembutkan watak buruk yang dirasa oleh kebanyakan orang sebagai suatu hal bawaan sejak lahir. Kebiasaan yang tidak mungkin bisa berubah. Mengarahkannya pada suatu hal yang lebih baik, melatih dan membiasakan kebaikan untuk melembutkan watak tersebut. Mengulang-ulang, hingga menjadi kebiasaan. Sebagaimana yang disampaikan para ulama'
"Dengan cara berulang-ulang, suatu hal akan menjadi sebuah ketetapan (kebiasaan). Dan dari ketetapan itulah akan menghasilkan sebuah pencerahan"
Memperbaiki kondisi seseorang. Haal (Kondisi) seseorang yang mungkin saja malas dan lemah dalam beribadah serta kikir dan acuh-tak acuh pada orang lain. Akan diarahkan Alloh pada sebuah keinginan dan kemauan tinggi untuk melakukan kebaikan. Karena sejatinya, dzikir tersebut merupakan aura dan energi positif yang menjadi makanan bagi ruh, menjadi asupan bagi jiwa dan hati. Hingga dengannya akan membangkitkan kembali rasa semangat yang pernah tertidur dalam diri.
Dalam sebuah riwayat, Rosululloh bersabda berkaitan dengan sifat Ar-Rifq ini,
"Tidaklah Ar-Rifq berada dalam suatu hal kecuali akan membuatnya indah, dan tidaklah ia tercabut dari suatu hal kecuali akan membuatnya cacat" -Makna Hadits-
Sebuah sifat yang dianggap Rosul sebagai salah satu sifat penting yang harus dimiliki setiap Muslim. Karena dengan sifat itulah yang kemudian membuat doa Rosululloh pada orang Yahudi yang menghina beliau dengan kalimat "As-Saam 'Alaikum" diterima. Karena beliau hanya menjawab "Waiyyakum", tanpa diikuti emosi yang cenderung muncul dari hawa nafsu. Dan dengan sifat itu pula yang kemudian membuat Alloh senang, karena sifat Ar-Rifq tersebut merupakan salah satu sifat Alloh dalam menyayangi para hambanya. Dan meniru salah satu sifat Alloh dalam berinteraksi dengan sesama, merupakan jalan terbaik yang bisa menghantarkan seseorang dekat denganNya.
Namun perlu diperhatikan pula oleh setiap Muslim, bahwa sifat Ar-Rifq ini tidaklah kemudian dijadikan sandaran untuk membenarkan segala perbuatan yang melampaui batas. Dengan dalih mencoba bersikap moderat dan toleran, secara tidak langsung merusak aqidah dan keyakinan umat pada Alloh. Inilah yang disebut Rosul dengan Mudahanah. Mengorbankan keimanan yang seharusnya kita jaga dan pertahankan hanya demi mendapatkan pujian dan simpati orang lain.
Untuk itulah, sifat Al-Hiddah (tegas) juga dibutuhkan setiap Muslim untuk bersikap di samping sifat Ar-Rifq. Mengikuti petunjuk Alloh yang disebutkan dalam Al-Qur'an saat menyifati para shohabat,
"Muhammad itu adalah utusan Alloh dan orang-orang yang bersama dengannya adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka" Al-Fath: 29
Sebuah petunjuk jelas bagi kita, bahwa sikap tegas dalam mempertahankan aqidah dan keyakinan harus selalu didahulukan sebagai sebuah prinsip yang selalu kita pegang teguh. Sebagai sebuah bentuk keseimbangan yang sejati. Tegas terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan Alloh dan RosulNya, serta lemah-lembut saat berkaitan dengan diri pribadi kita.
Mudah-mudahan kita bisa menjalankan sifat-sifat yang telah Rosululloh ajarkan pada kita, agar keseimbangan dalam beragama bisa terus kita jalankan dengan baik. Tentunya dengan harapan hal itu bisa menghantarkan kita untuk semakin dekat dengan Alloh dan RosulNya, Amiin...
-Taklim Pagi-
Sunan Abu Daud, 3 Desember 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar