Rabu, 02 Desember 2015

Kisah Ahlusshuffah

"Setiap selesai sholat, Rosululloh selalu mem-posting shohabat ahlus-shuffah untuk menerima jatah makan pada shohabat lainnya" -Makna Hadits-

Ahlus-Shuffah, yaitu para shohabat yang dikenal dengan tamu-tamu Alloh. Dikarenakan mereka menempati pelataran masjid Nabawi sebagai tempat tinggal dan istirahat mereka. Golongan shohabat yang tidak memiliki harta dan apapun untuk kelangsungan hidup (golongan faqir) namun memiliki kesemangatan yang tinggi untuk menimba ilmu dan memperkokoh keimanan pada Rosululloh dan shohabat lainnya.


Riwayat hadits di atas, menjelaskan pada kita bahwa Rosululloh, dengan posisi beliau sebagai pemimpin kaum Muslimin saat itu, tidak pernah sedikitpun melepaskan perhatian beliau pada para shohabatnya. Hingga untuk jatah kehidupan dan kebutuhan mereka sehari-hari. Memberi perintah pada setiap shohabat yang berkecukupan dalam hidupnya untuk mengajak minimal satu shohabat ahlus-shuffah ke tempat tinggalnya untuk makan dan pemenuhan kebutuhan hidup lainnya.

Dari sikap Rosululloh di atas, memberikan kita banyak pelajaran untuk kita tiru dan teladani. Beberapa di antaranya,
1. Kemiskinan, bukanlah hal yang dilarang dalam agama dan kemudian membuat kita membencinya. Karena sejatinya, kemiskinan tersebut adalah pemberian dan jatah rizqy yang telah ditentukan langsung oleh Alloh, bukan karena kesengajaan yang dilakukan (terkecuali Rosululloh, yang memang memilih untuk hidup sederhana). Adapun larangan tersebut akan berlaku jikalau muncul "keluhan" saat menjalaninya (hidup miskin).
2. Seorang pemimpin, memiliki kewajiban yang luas terhadap rakyatnya. Tidak hanya sekedar mengatur roda pemerintahan dengan baik dan benar, namun juga mengatur kehidupan dan penghidupan rakyatnya dengan adil dan tegas. Memperhatikan kesejahteraan hidup setiap rakyatnya, mendahulukan hal tersbut dan mengesampingkan kebutuhan pribadinya.
3. Kepedulian pada orang lain, saudara sesama Muslim yang membutuhkan bantuan dari kita. Mencoba berbagi dengan segala hal yang kita miliki. Harta, tenaga, pikiran maupun doa. Tidak melihat bahwa hal tersebut adalah kewajiban bagi kita, yang harus kita lakukan. Namun lebih karena mereka bukannlah orang lain (asing), namun bagian dari kita. Saudara seiman yang jauh lebih dekat dari sekedar saudara sedarah.

Sebuah kisah menarik diriwayatkan imam Tirmidzi dalam kitab beliau, mengisahkan seorang Shohabat Rosul yang telah terkenal di kalangan kaum Muslimin, Abu Huroiroh. Di mana suatu hari beliau merasa kelaparan karena beberapa hari tidak sepotong makanan pun masuk ke dalam pencernaannya. Beliau kemudian menghampiri seorang shohabat dan menanyakan akan ayat (ajaran) Alloh padanya, dengan harapan shohabat tersebut memahami keadaannya dan memberi makanan. Namun ternyata shohabat yang beliau dekati tidak memahami hal tersebut dan berlalu begitu saja.

Kemudian Rosululloh lewat melintasinya, dan Rosululloh pun tersenyum melihat kondisinya saat itu. Rosululloh memahaminya, dan mengajaknya ke rumah beliau. Sesampainya di rumah, Rosululloh masuk dan menemukan sebuah wadah berisi susu yang ternyata merupakan sebuah hadiah bagi seseorang untuk beliau. Melihat hal tersebut, Rosululloh berkata pada Abu Huroiroh, "Panggil seluruh Ahlus-Shuffah...!". Suatu kebiasaan mulia Rosululloh saat mendapatkan sebuah hadiah dari seseorang, beliau akan menikmati hadiah tersebut bersama para shohabatnya. Tidak untuk beliau nikmati sendiri.

Mendapatkan perintah dari Rosululloh tersebut, Abu Huroiroh bingung. Karena yang beliau lihat, susu dalam wadah yang diterima Rosululloh tidak terlalu banyak, sedang shohabat Ahlus-Shuffah sangatlah banyak. Dan sepertinya tidak akan mencukupi untuk dinikmati seluruh orang. Beliau pun berpikir, Lalu apa kemudian yang akan tersisa untuk beliau minum. Namun, dikarenakan ketaatan dan kepatuhan yang tinggi pada Alloh dan RosulNya, membuat beliau menepis perasaan tersebut.

Saat kembali ke kediaman Rosululloh bersama para shohabat Ahlus-Shuffah, Rosululloh kemudian mempersilahkannya untuk meminum susu tersebut yang kemudian beliau persilahkan pada shohabat ahlus-shuffah yang lain untuk meminumnya terlebih dahulu. Selesai semuanya meminum susu tersebut, Rosululloh memerintahnya untuk meminum susu tersebut. Satu tegukan, Rosul perintah lagi, "minum". Dan terus berulang-ulang hingga beliau merasa kenyang dan tak menemukan rongga lagi untuk masuknya susu dalam pencernaan beliau. Barulah setelah itu Rosululloh meminumnya.

Dari riwayat tersebut, kita juga menemukan banyak pelajaran penting yang bisa kita teladani. Betapa Rosululloh sangat luar biasa dalam memberikan pelajaran terbaik pada para shohabatnya. Memberikan contoh kepedulian dan kebersamaan yang tinggi. Itsar, mendahulukan saudara kita yang lain dalam menerima hak dan pemberian, dan tidak merasa jijik saat meminum susu dari bekas minum shohabatnya.

Mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran tersebut dan mencoba meniru serta menerapkannya di kehidupan kita bersama, dengan harapan keberkahan akan datang pada diri kita. Amiin...

-Taklim Pagi-
Sunan Tirmidzi, 2 Desember 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar