Oleh: KH. Moh. Idris
Jauhari
قَالَ
رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
أَلَا
وَإِنَّ لِلَّهِ أَوَانِي فِي أَرْضِهِ وَهِيَ قُلُوْبُ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ,
فَأَحَبُّ الْأَوَانِي إِلَى اللهِ تَعَالَى أَصْفَاهَا وَأَصْلَبُهَا وَأَرَقُّهَا,
أَصْفَاهَا مِنَ الذُّنُوْبِ وَأَصْلَبُهَا فِي الدِّيْنِ وَأَرَقُّهَا عَلَى الْإِخْوَانِ (رواه
الطبراني)
Rosululloh Shollallohu’Alaihi
wa Sallam bersabda:
“Sungguh Alloh memiliki
bejana-bejana di muka bumi, yaitu kalbu-kalbu para hamba-Nya yang sholih. Yang
paling dicintai oleh Alloh dari bejana-bejana itu adalah yang paling bersih,
paling keras, dan paling lembut. Paling bersih dari dosa, paling keras dalam
urusan agama, dan paling lembut terhadap saudara-saudaranya (sesama muslim).” (HR.
Thobaroni)
Hati
orang-orang yang sholih adalah bejana Alloh di muka bumi. Sebagai milik Alloh Subhanahu
wa Ta’ala, sudah pasti bejana-bejana itu terbaik dan berkualitas tinggi.
Bejana-bejana itu mampu menampung sekian banyak kebaikan, anti kemaksiatan, dan
tahan terhadap berbagai goncangan.
Ya,
hanya hati orang-orang yang sholih yang layak menjadi bejana milik Alloh.
Karena hati mereka senantiasa bertabur cahaya iman dan keyakinan kepada Alloh.
Dari
sekian banyak karakter hati orang-orang sholih, tiga di antaranya yang paling
dicintai. Yaitu yang paling bersih dari dosa, paling keras dalam urusan agama,
dan paling lembut terhadap saudara-saudaranya sesama muslim.
Bersih Dari Dosa
Hati
memiliki sifat fluktuatif. Kadang bersih, kuat, bercahaya, dan lemah lembut. Di
lain waktu, hati kadang kotor, penuh maksiat, gelap gulita, dan keras membatu.
Sifat hati yang pasang surut itu sesuai penamaannya. Dalam bahasa Arab, hati
disebut qolb. Penamaan itu disebabkan seringnya hati berbolak-balik.
Pasang surut. Tiada tetap. Karena itu, wajar jika hati penuh dengan noda dosa.
Hati orang-orang sholih adalah yang paling bersih dari lumuran dosa. Sebagai orang yang paling dekat dengan Alloh, orang-orang sholih pasti menjaga dan merawat hatinya setiap saat dari pikiran, sikap, dan tindakan yang menyebabkan timbulnya dosa. Mereka senantiasa menjadikan hari-hari sebagai ladang untuk menyemai kebaikan. Seperti mereka meniatkan setiap amal yang akan dikerjakan sebagai ibadah kepada Alloh.
Hati
orang-orang sholih senantiasa basah dengan keyakinan dan keimanan kepada Alloh.
Mereka tak pernah membiarkan hatinya kosong dan gersang dari kalimat-kalimat thoyyibah.
Hati mereka menyatu dengan Alloh. Inilah mengapa kemudian Alloh mencintai hati
orang-orang sholih.
Hati
orang-orang sholih bukan lantas suci seratus persen dari noda dosa. Tapi setiap
kali hatinya ternoda dosa, saat itu pula mereka segera bergegas membersihkan
dan menyucikannya dengan cara bertobat. Sebab mereka tahu, hanya dengan tobat
surga akan diraih.
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari
Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan
untuk orang-orang yang bertakwa”
Orang-orang
sholih senantiasa mengamalkan ajaran Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa
Sallam yang menganjurkan umatnya untuk membaca istighfar minimal 70
kali bahkan lebih dalam sehari semalam. Karena mereka menyadari bahwa dosa akan
senantiasa mengintai seiring detak jantung dan denyut nadi mereka.
Selama istighfar,
orang-orang sholih senantiasa membasahi hati dengan dzikir kepada Alloh. Dzikir
menjaga hati agar stabil dan senantiasa bergerak menuju poros Alloh. Stabilitas
hati menjadi prasyarat agar hati selalu tentram dan bercahaya, serta bebas dari
beban dosa.
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati
mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan
mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”
Keras Keyakinan
Alloh juga
mencintai hati orang-orang sholih yang keras. Yaitu hati yang tak pernah
kompromi dengan segala bentuk kejahatan dan kemaksiatan kepada Alloh, hati yang
senantiasa meyakini bahwa syariat Alloh yang paling benar. Selain itu bathil.
Termasuk terhadap pihak-pihak yang suka “mengacak-acak” kebenaran agama Islam.
Seperti kaum liberal, sekuler, dan sejenisnya.
Mereka bersikap
keras kepada orang-orang kafir yang senantiasa berniat jahat menghancurkan
Islam. Seperti tercermin dalam sikap Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa
Sallam ketika menghadapi arogansi kaum kafir Quraisy.
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan
orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir,
tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku' dan sujud mencari
karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka
dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat
mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas
itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di
atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah
hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang
mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal
yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.”
Orang-orang sholih
yang hatinya keras, akan senantiasa berani berkata benar meski terasa pahit.
Mereka tak akan pernah mencampuradukkan yang haq dengan yang bathil.
Keyakinan mereka terhadap kebenaran Islam sekokoh karang di lautan. Tak mudah
goyah oleh hantaman gelombang sekalipun.
Lalu, bagaimana
orang-orang sholih membina hati mereka agar bisa bersikap keras dalam urusan
agama?
Pertama,
mereka senantiasa memperbaiki niat beragama. Bandingkan dengan kita yang selama
ini sering salah dalam menjalankan proses keberagamaan kita.
Tak jarang kita terjebak
sikap riya’ ketika melakukan aktivitas agama. Tujuan beragama kita
kemudian tereduksi hanya untuk mendapatkan pamrih dan pengakuan dari orang,
bukan dari Alloh.
Kedua, orang-orang sholih mengetahui dan memahami secara haqqul yaqin
tentang substansi dan nilai-nilai agama. Dengan demikian mereka selalu sadar
diri terhadap fungsi mereka sebagai hamba Alloh dan kholifah-Nya di muka bumi.
Ketiga, orang-orang sholih senantiasa melaksanakan semua ajaran agama secara
konsisten dan istiqomah yang diyakini kebenarannya secara mutlak.
Keempat, mereka senantiasa melakukan pembelaan terhadap Islam ketika ada
pihak-pihak yang sengaja atau tidak ingin menghancurkan nilai-nilai Islam.
Mereka tak pernah lalai dan menganggap enteng
urusan-urusan agama. Seperti sholat, puasa, zakat, dan lainnya. Mereka juga
memiliki sikap teguh untuk melaksanakan semua ajaran agama dengan baik dan
maksimal. Tak ada kata “menganggap mudah” urusan agama bagi mereka. Semuanya
disikapi secara proporsional dan serius, sesuai tuntunan syariat.
Lembut kepada Sesama Muslim
Alloh juga
mencintai hati orang-orang sholih yang lembut. Kelembutan hati tercermin dari
sikap dan prilaku mereka, terutama kepada sesama muslim. Mereka senantiasa
sayang dan toleran terhadap sesama muslim, dan senantiasa menghindari
permusuhan dan sikap sombong.
“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya
bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu
itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”
Bagi orang-orang
sholih, saudaranya seiman adalah bagian dari tubuh mereka sendiri. Karena itu,
melukai dan menyakiti mereka sama halnya melukai dan menyakiti tubuh sendiri.
Orang-orang sholih akan selalu duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan
sesama muslim lainnya. Mereka tak pernah bersikap over dan menganggap
diri paling hebat dan paling dekat kepada Alloh.
Orang-orang sholih
yang lembut hatinya, akan senantiasa mengasah sensivitas dan kepedulian kepada
sesama muslim. Mereka dapat merasakan derita dan jeritan saudaranya,
mengulurkan tangan sebelum diminta, membantu sebelum diminta bantuan.
“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah
dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka
(Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka
(Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang
diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang
muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan
siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang
beruntung”
Gambaran lebih
konkrit tentang sikap orang-orang sholih yang lembut hatinya, seperti telah
disabdakan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, “Seorang muslim
bersaudara dengan muslim lainnya. Ia tidak menganiaya, tak pula
menyerahkannya (kepada musuh). Barangsiapa memenuhi kebutuhan saudaranya, Alloh
akan memenuhi pula kebutuhannya. Barangsiapa melapangkan seorang muslim dari
suatu kesulitan, Alloh akan melapangkan baginya satu kesulitan pula dari
kesulitan-kesulitan yang dihadapinya di kemudian hari. Barangsiapa menutup aib
seorang muslim, Alloh akan menutup aibnya di hari kemudian” (HR. Bukhori,
Muslim)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar