Rabu, 18 September 2013

Fase Dakwah Rosululloh

4 Fase Dakwah Rosululloh:
1. Dakwah sembunyi-sembunyi selama 3 tahun
2. Dakwah dengan penyampaian secara terang-terangan tanpa perang hingga saat hijroh
3. Dakwah dengan bergerak memerangi orang-orang yang melampaui batas dan orang-orang yang terlebih dahulu memulai perang hingga terjadinya Perjanjian Hudaibiyah
4. Dakwah dengan memerangi orang-orang yang menghadang dan merintangi jalan dakwah ilalloh

Renungan Kehidupan
(Ta'lim Abi, 10 September pkl. 06.35)

Ajakan Rosululloh

Diriwayatkan Dari Abu Hurairah Rodliyallohu 'Anhu, Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam bersabda,
"Barang siapa yang melepaskan seorang mukmin dari kesusahan dunia, maka Alloh akan membebaskannya dari kesusahan di hari kiamat.
Barang siapa yang memudahkan orang yang sedang mengalami kesulitan, maka Alloh akan memudahkan kepadanya di dunia dan akhirat." (HR. Muslim)

Rosululloh mengajak kita untuk selalu peduli terhadap sesama saudaraku...
Adakah kita menjawab ajakan dan panggilan beliau...?

Jumat, 26 Juli 2013

Keajaiban Sedekah



Diriwayatkan dari sayyidah 'Aisyah Rodliyallohu 'anha bahwa Rosululloh bersabda:
"Sesungguhnya Alloh pasti akan memelihara sedekah seseorang di antara kalian yg berupa kurma maupun sepotong makanan sebagaimana ia memelihara anak untanya hingga (sedekah itu) menjadi sebesar gunung uhud" HR. Ibnu Hibban & Thobaroni

Sedekah...
Kata yg biasa kita dengar dan lumrah dalam pandangan kita.
Sebuah amal yg seringkali didengungkan dan dianjurkan oleh para ulama' agar kita selalu istiqomah dalam melaksanakannya.
Agar tidak terjadi kesalah-pahaman yang berkelanjutan, lebih baiknya kita mengetahui secara mendalam, makna dan maksud dari sedekah itu sendiri.
Sebagaimana dari sisi ajaran agama kita, sedekah merupakan amal ibadah yang mudah dikerjakan dan memiliki keistimewaan yg luar biasa. Salah satunya sudah kita sebutkan pada untaian kalimat hadits di atas. Dan selain itu pula, dalam agama kita sedekah bisa menjadi sebuah tameng dan benteng yang kokoh bagi para pengamalnya dari adanya bala' maupun musibah. Entah itu musibah dunia maupun musibah akhirat. Sebagaimana sabda Rosululloh:
"Bersegeralah dalam bersedekah, karena sesungguhnya bala' tertolak dengannya" HR. Baihaqi & Thobaroni

Minggu, 31 Maret 2013

Hamba Terbaik, Hamba Terburuk



Oleh : KH. Muhammad Idris Jauhari
  
قَالَ رَسُولُ اللَّه ِصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ :”خِيَارُ عِبَادِ اللَّهِ الَّذِينَ إِذَا رُءُوا ذُكِرَ اللَّهُ، وَشِرَارُ عِبَادِ اللَّهِ الْمَشَّاءُونَ بِالنَّمِيمَةِ الْمُفَرِّقُونَ بَيْنَ اْلأَحِبَّةِ الْبَاغُونَ الْبُرَآءَ الْعَنَتَ.”
(رواه أحمد والبخاري في الأدب المفرد)

Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam bersabda,
“Sebaik-baik hamba Alloh adalah mereka yang membuat orang lain mengingat Alloh saat melihat mereka. Dan seburuk-buruk hamba Alloh adalah mereka yang berjalan ke sana ke mari menyebarkan fitnah, yang menyebabkan perpisahan di antara orang-orang yang saling mencintai, yang berusaha mendatangkan kesulitan kepada orang-orang yang tidak bersalah.”
(HR Ahmad dan Bukhori dalam kitab al-Adab al-Mufrod)

Berdasar hadits di atas, ada dua tipe seorang hamba di mata Alloh Subhananu wa Ta'ala. Pertama, hamba terbaik yaitu mereka yang mampu membuat orang lain mengingat Alloh ketika melihat mereka. Kedua, hamba terburuk yaitu mereka yang suka menyebarkan fitnah dan mendatangkan kesulitan bagi orang yang tidak bersalah.

Hamba Alloh Terbaik
Menjadi hamba Alloh dengan predikat terbaik menjadi dambaan setiap muslim. Predikat terbaik di sisi Alloh adalah capaian tertinggi seorang muslim sebagai seorang hamba. Tidak ada posisi yang lebih mulia dalam kehidupan seorang muslim kecuali Alloh benar-benar telah menetapkan orang tersebut sebagai kekasih-Nya.
Hamba terbaik di mata Alloh bukanlah semata seorang yang mampu menjalankan perintah Alloh dengan istiqamah dan menjauhi segala larangan-Nya secara sungguh-sungguh, melainkan mereka yang mampu membuat orang lain senantiasa mengingat Alloh (dzikrulloh) dalam situasi dan kondisi bagaimanapun, baik hati, pikiran, maupun tingkah lakunya.
Barometer hamba terbaik di mata Alloh tidak lagi didasarkan pada kesholehan individu semata. Tapi, bagaimana kesholehan individu bertransformasi menjadi sebuah energi spiritual-magnetik yang secara spontan mampu menarik orang-orang di sekitarnya untuk senantiasa melakukan dzikrulloh. Karena itu, bagi hamba Alloh terbaik, upaya menjadikan orang lain agar senantiasa melakukan dzikrulloh bukanlah sesuatu yang sulit dilakukan. Modalnya: kekuatan spiritual, kematangan kepribadian, dan kedalaman pikiran.
Hamba terbaik senantiasa memancarkan nur ilahiah dari sekujur tubuhnya. Nur ilahiah ini kemudian memancar menelusup kepada siapa pun yang berada di sekelilingnya. Siapa pun yang terkena pancaran nur ilahiah ini, sedikit banyak, akan mengalami perubahan kepribadian. Tak jarang mereka kemudian berbalik arah menjadi seorang alim, taat, dan istiqamah melaksanakan perintah Alloh dan menjauhi larangan-Nya.

Kamis, 28 Maret 2013

IHTIMAM; ANTARA TUGAS DAN PRIBADI

Oleh: Abi Ihya' Ulumiddin
Taushiyah Vol. 1 Edisi 1

Di dunia ini seorang muslim dihadapkan pada banyak kepentingan yang menuntut perhatiaannya. Baik kepentingan yang sifatnya menuju ketaatan kepada Alloh swt maupun kepentingan sebaliknya, yang pelaksanaannya tidak bernilai pahala bahkan sia-sia. Diantara kepentingan yang ada itu dapat tersimpulkan menjadi dua bagian: kepentingan tugas dan kepentingan pribadi. Kepentingan tugas maksudnya kepentingan dimana seorang muslim harus bertanggung jawab menjalankan ketaatan kepada TuhanNya dalam segala bentuknya. Sedangkan kepentingan pribadi merupakan kebalikannya.

Terhadap dua kepentingan itu, seorang muslim harus bisa memilih dan memilah mana kepentingan tugas dan mana kepentingan pribadi.Sehingga setiap langkahnya dalam memperhatikan (ihtimam) tiap-tiap kepentingan itu, baik dengan uangnya, tenaganya, pikirannya, maupun jiwanya, semuanya bernilai ketaatan (ibadah). Sebab manusia tercipta hanya untuk tujuan itu.[i] Dengan demikian, kepentingan tugas harus lebih didahulukan.

Dari sini bukan berarti muslim hidup harus selalu bertugas (ibadah) setiap waktu dengan mengabaikan urusan pribadi. Namun, disamping kepentingan tugas dilakukan sesuai dengan kadar puncak kemampuannya, kepentingan pribadi juga diperhatikan secara tawassuth (wajar).