Rabu, 02 Desember 2015

Menjauhi dosa sejauh-jauhnya

Terdapat sebuah riwayat hadits dimana seorang shohabat menanyakan kebolehan membuat cuka dari khomr. Rosululloh menjawab bahwa hal tersebut dilarang, jika sudah diproses (dicampuri bahan lain). Adapun jika tidak diproses (berubah dengan sendirinya), maka tidak ada masalah.

Sebuah peristiwa pendek yang kemudian menghasilkan banyak istinbath (kesimpulan hukum) dari para ulama', berkaitan dengan kenajisan khomr tersebut. Dan berkaitan pula dengan larangan Alloh untuk mendekatinya.

Adapun hikmah yang bisa diambil dari hal tersebut, sebuah pengingat kita akan perintah Alloh untuk selalu berhati-hati dalam mendekati sebuah dosa. Segala hal yang telah menjadi larangan Alloh, maka semaksimal kita untuk berusaha menjauhi sejauh-jauhnya. Sebagaimana yang disabdakan Rosul dalam sebuah riwayat hadits,
"Apa yang telah aku perintahkan, maka kerjakanlah semampu kalian. Dan apa yang telah aku larang, maka jauhilah" -Makna Hadits-

Sabtu, 22 November 2014

Ciri-ciri istri Sholihah...




          1.       Penuh kasih sayang, selalu kembali kepada suaminya dan mencari maafnya.

Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ اَلْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ الْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا، الَّتِى إِذَا غَضِبَ جَاءَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِي يَدِ زَوْجِهَا، وَتَقُوْلُ: لاَ أَذُوقُ غَضْمًا حَتَّى تَرْضَى

"Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: "Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha." (HR. An-Nasa’i)

Rabu, 18 September 2013

Iman dengan Akal...?

Akal bisa menopang keimanan dalam hati dan menjadikannya sebagai pondasi keimanan yang kuat, meski tidak sepenuhnya dan bukan segala hal dalam proses keimanan pada Alloh harus dibuktikan dengan akal.

Namun Mengimani Alloh dan adanya wujud Alloh merupakan hal yang bisa dinalar dan dibuktikan dengan akal.
1. Beragama adalah naluri setiap manusia. Menyembah Tuhan yang selalu ia percaya, maka akan terjadi kerancuan dan tidak masuk akal jika aturan menyembah Tuhan diatur sendiri seenaknya oleh setiap orang yg menyembahnya, maka mau tidak mau aturan tersebut harus datang langsung dari Tuhan yang disembah.
2. Dan untuk menyampaikan aturan tersebut, tentunya harus ada yang namanya utusan. Penyampai risalah Tuhan kepada seluruh manusia. yang disbut dengan Rosululloh
3. Adapun penyampaian Risalah Tuhan tersebut kepada para Rosul, terdapat makhluk khusus yang diutus menjadi perantara Tuhan dan RosulNya yang disebut dengan Malaikat.
4. Membahas risalah Tuhan yang diturunkan, aturan-aturan keberagamaan yang disampaikan para Rosul, terbentuk dan terkumpul dalam sebuah kitab suci yang disebut Al-Qur'an. Terdapat 3 hal dalam nalar akal untuk bisa membuktikan kebenaran dan keotentikan Al-Qur'an, mengingat Al-Qur'an menggunakan tata bahasa Arab, maka logika yang kita temukan:
a. Al-Qur'an dibuat dan dikarang oleh orang Arab, hal ini bathil dan tidak masuk akal, mengingat terdapat sebuah ayat di dalamnya yang berisi tantangan kepada seluruh orang Arab untuk membuat tandingan ayat semisal Al-Qur'an
b. Al-Qur'an diciptakan oleh Rosululloh, hal ini juga bathil dan tidak masuk akal. Karena selama orang Arab tidak bisa menandingi keindahan ayat Al-Qur'an, maka Rosululloh pun selaku orang Arab juga tidak bisa menciptakannya. Dan hal ini juga beliau buktikan dengan perbedaan mendasar dalam 2 kalam yang sama-sama keluar dari lisan beliau, yaitu Al-Qur'an dan Hadits.
c. Al-Qur'an berasal dari Alloh, Tuhan semesta alam. Penguasa segala keindahan. Jika 2 hal di atas tidak bisa menciptakan Al-Qur'an, maka logika terakhir Al-Qur'an berasal langsung dari Alloh. Mengingat bahasa Al-Qur'an menggunakan bahasa tertinggi dan terhalus dalam tatanan bahasa Arab.

Dari penalaran akal inilah, manusia bisa membuktikan kebenaran adanya Alloh sehingga dengannya bisa mengantarkan dirinya pada keimanan terhadap adanya hal-hal ghaib yang termaktub dalam Al-Qur'an, Hadits Qoth'i dan Hadits-hadits Ahad, penjelasan perihal alam ghoib yang kasat mata dan tak terjangkau oleh indera.

Renungan Kehidupan
(Ta'lim Abi, pkl. 06.58)

Potensi kehidupan manusia

Sebuah bentuk kesempurnaan Islam yang telah disiapkan Alloh Subhanahu wa Ta'ala untuk para hambanya dalam mengkondisikan hidup terkait pengendalian potensi hidup yang dimiliki manusia. Potensi kehidupan yang membawa manusia menuju 2 maqom yang disebutkan oleh para ulama sebagai maqom tertinggi, sehingga malaikatpun segan dan menghormatinya, atau maqom terendah sehingga setanpun malas berkawan dan mendekatinya.

Potensi kehidupan tersebut terbagi menjadi 2 hal, dikategorikan dalam bentuk akibat yang dimilikinya.
1. Potensi hidup alami yang tumbuh dari dalam diri, tanpa membutuhkan pendorong. Menuntut pemenuhan dengan segera (secara darurat). Jika tidak dilakukan akan mengakibatkan dampak fatal berupa kematian. Contoh: Makan, minum, tidur, buang hajat, dll.
2. Potensi hidup yang berasal dari luar diri, dan membutuhkan pendorong (melalui pemikiran atau realita yang terindra). Tidak menuntut pemenuhan dengan segera. Karena jika tidak dilakukan, tidak berakibat fatal namun hanya menyebabkan keresahan dan kegelisahan perasaan dalam diri, hal inilah yang kemudian para ulama menyebutnya sebagai Ghorizah (Naluri/insting). Contoh: Mencintai lawan jenis, hidup kaya, dll.

3 pembagian Ghorizah:
1. Ghorizah Nau' (Naluri menyukai lawan jenis), terdorong dari indera yang memperhatikan, terekam dalam pikiran hingga menggelitik perasaan
2. Ghorizah Tadayyun (Naluri beragama), terdorong dari perhatian indra terhadap ayat-ayat Alloh, tersirat maupun tersurat. tafakkur memikirkan dan teresap baik ke dalam hati. Sehingga darinya muncullah ketaatan, rasa takut dan keinginan untuk selalu terhubung kepada Alloh.
3. Ghorizah Baqo' (Naluri Bertahan Hidup)

Alangkah baiknya, bila pribadi setiap Muslim mengarahkan segala potensi hidup yang dimilikinya kepada Ghorizah Tadayyun, berusaha mencari pendorong yang kuat kepadanya. Karena hanya ghorizah (naluri) tersebut yang mampu membawa manusia menuju kebahagiaan hidup di dunia maupun di akhirat.

Renungan Kehidupan
(Ta'lim Abi, 12 September 2013 pkl. 06.10)

Terasing... Siapa Takut..?

Islam datang dalam keadaan terasing, dan akan kembali dalam keadaan terasing. Maka beruntunglah bagi orang-orang yang terasing... (HR. Al-Bazzar)

Terasing, termusuhi dan dijauhi karena berusaha mengikuti para ulama yang gigih dalam menghidupkan dan menyebarkan sunnah-sunnah Rosululloh...

Berusaha menjauhkan diri dari para ulama' Suu', golongan yang disebut Rosululloh sebagai makhluk terburuk (syarrul kholq). Penyebar kesesatan, paham-paham miring yang merusak kemurnian Islam, yang mematikan sunnah-sunnah Rosululloh yang agung.
Dan merupakan golongan yang disebut para ulama' sebagai golongan yang jauh lebih berbahaya daripada setan. Karena sedikit demi sedikit mereka bisa mengikis keyakinan dan kepercayaan kepada Islam dari hati para makhluk. Na'udzubillah min dzalik

Renungan Kehidupan
(Ta'lim Abi, 11 September 2013 pkl. 07.20)