Terdapat sebuah riwayat hadits dimana seorang shohabat menanyakan kebolehan membuat cuka dari khomr. Rosululloh menjawab bahwa hal tersebut dilarang, jika sudah diproses (dicampuri bahan lain). Adapun jika tidak diproses (berubah dengan sendirinya), maka tidak ada masalah.
Sebuah peristiwa pendek yang kemudian menghasilkan banyak istinbath (kesimpulan hukum) dari para ulama', berkaitan dengan kenajisan khomr tersebut. Dan berkaitan pula dengan larangan Alloh untuk mendekatinya.
Adapun hikmah yang bisa diambil dari hal tersebut, sebuah pengingat kita akan perintah Alloh untuk selalu berhati-hati dalam mendekati sebuah dosa. Segala hal yang telah menjadi larangan Alloh, maka semaksimal kita untuk berusaha menjauhi sejauh-jauhnya. Sebagaimana yang disabdakan Rosul dalam sebuah riwayat hadits,
"Apa yang telah aku perintahkan, maka kerjakanlah semampu kalian. Dan apa yang telah aku larang, maka jauhilah" -Makna Hadits-
Tidak kemudian mendekatinya dengan dalih mencoba mencari kemanfaatan darinya. Karena sejatinya hal itu akan menjadi pintu gerbang luas bagi setan untuk menyesatkan kita. Menganggap suatu dosa kecil sebagai hal sepele dan remeh sehingga kita terus-menerus mengulanginya. Padahal telah kita ketahui bersama bahwa tidaklah sebuah dosa kecil dikatakan kecil jika dilakukan secara berulang-ulang. Dan lebih dari itu, Alloh sangat cemburu kepada seorang hamba yang melakukan kemaksiatan sekecil apapun.
Sebagaimana yang terjadi pada perkara rokok yang kemudian menghasilkan berbagai macam pendapat akan kebolehannya. Ada yang berpendapat makruh, mubah bahkan harom. Tidak lagi kemudian mendahulukan mudlorot (hal berbahaya) yang bisa saja merugikannya.
Abuya As-Sayyid Muhammad Al-Maliky sendiri memiliki pendapat berbeda mengenai rokok tersebut. Beliau tidak mengambil ketiga pendapat yang muncul di kalangan kaum Muslimin. Beliau mencoba lebih mengedepankan adab dan dzauq dalam menyikapinya. Tidaklah etis menurut beliau, seorang Muslim yang setiap harinya selalu mencoba sambung dengan Alloh melalui dzikir, membaca Al-Qur'an dan membaca hadits Rosululloh dilakukan dengan mulut yang berbau apek dan tidak sedap (aroma rokok). Karena -masih menurut beliau-, para malaikat tidaklah menyukai bau-bauan yang tidak sedap. Lalu bagaimana mungkin seorang Muslim yang sudah seharusnya selalu didekati oleh aura malaikat membuat malaikat yang mendekatinya benci pada bau-bauan yang muncul dari mulutnya.
Hal inilah yang kemudian membuat beliau menerapkan pada setiap santrinya untuk menjauhi rokok. Dikarenakan mendahulukan dzauq, adab dan rasa takut pada Alloh jauh lebih utama dan lebih dibutuhkan daripada ilmu yang dimiliki. Usaha keras dalam menjauhi suatu larangan sejauh-jauhnya.
"Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa" Al-An'am: 44
Kabar berita Rosululloh akan datangnya sebuah zaman dimana segala hal menjadi mudah didapatkan oleh manusia, tanpa perlu bersusah-payah dalam memutar otak dan mengeluarkan tenaga. Karena di zaman tersebut, tidaklah lagi ditemukan adanya rasa takut dalam diri setiap orang. Tidak ada lagi rasa saling peduli antar sesama. Dan tidak ada lagi ilmu yang bisa dimanfaatkan seseorang untuk mendekatkan diri pada TuhanNya. Menghalalkan segala cara demi keuntungan dan rasa kepuasan diri, menjadi cara ampuh yang selalu mereka lakukan. Cara tercepat untuk mendapatkan hal yang diinginkan.
Karena itulah, disampaikan oleh Abuya As-Sayyid Ahmad bin Muhammad Al-Maliky dalam sebuah pesan beliau pada santri-santrinya,
Tiga hal yang sangat langka ditemukan di akhir zaman,
1. Rizqy yang halal
2. Ilmu yang berfaedah (bermanfaat)
3. Saudara karena Alloh
Dari itu, sudah saatnya bagi kita sebagai generasi penerus perjuangan Rosul dan para ulama Salafus-sholih untuk kembali mendahulukan dan mengutamakan rasa takut pada Alloh dalam melaksanakan segala sesuatu, dengan penuh adab dan dzauq tentunya. Tidak lagi mengandalkan dan melandaskan pada keilmuan yang kita miliki. Karena sejatinya, ilmu tanpa diiringi dzauq, adab dan rasa takut pada Alloh hanya akan menjadi sebuah bumerang yang membahayakan diri dan orang sekitar kita.
Mudah-mudahan kita bisa menjaga keilmuan yang kita dapat dan rasa takut selalu pada Alloh di setiap keadaan. Amiin...
-Taklim Pagi-
Shohih Muslim, 30 November 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar