Rabu, 02 Desember 2015

Kisah Ahlusshuffah

"Setiap selesai sholat, Rosululloh selalu mem-posting shohabat ahlus-shuffah untuk menerima jatah makan pada shohabat lainnya" -Makna Hadits-

Ahlus-Shuffah, yaitu para shohabat yang dikenal dengan tamu-tamu Alloh. Dikarenakan mereka menempati pelataran masjid Nabawi sebagai tempat tinggal dan istirahat mereka. Golongan shohabat yang tidak memiliki harta dan apapun untuk kelangsungan hidup (golongan faqir) namun memiliki kesemangatan yang tinggi untuk menimba ilmu dan memperkokoh keimanan pada Rosululloh dan shohabat lainnya.

Metode Pengubah dan Penata Jiwa

Berkata Sayyidina 'Ali bin Abi Tholib, "Kami sedang duduk bersama Rosululloh di dalam masjid, lalu datang dan ikut bergabung bersama kami Mush'ab bin 'Umair dengan mengenakan pakaian yang ditambal. Ketika Rosululloh melihatnya, beliau menangis mengingat bagaimana keadaannya (Mush'ab) sebelum Islam (manja dan selalu tampil necis), dan bagaimana keadaannya saat ini" –Makna Hadits–

Sebuah perubahan yang luar biasa dilakukan oleh seseorang. Membalikkan keadaan 180 derajat. Tidak lagi melihat diri, tidak lagi dunia bergantung pada hati, tidak lagi peduli pada selain Alloh dan Rosul yang ia cintai.

Bentuk pendidikan seperti apa yang diterapkan oleh Sang Baginda Nabi? Bentuk pembimbingan bagaimana yang disampaikan Nabi, hingga mampu mengupgrade sosok-sosok penting dan luar biasa di zamannya?

Keistimewaan Nabi

"Beliaulah (Rosululloh Muhammad) yang muncul pertama kali saat hari Kebangkitan. Terdapat bersama beliau saat itu 70.000 malaikat dan Buroq (yang pernah beliau tunggangi saat Isro' & Mi'roj)"

Terdapat banyak keistimewaan yang diberikan Alloh dan dikhususkan hanya diberikan pada beliau, Rosulululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam. Keistimewaan sebelum kelahiran beliau, saat kelahiran, masa kanak2, masa remaja, masa dewasa, masa diutusnya beliau menjadi rohmatan lil'alamiin, masa wafat beliau, dan masa kebangkitan kelak di hari Kiamat.

Rosululloh Muhammad, adalah orang yang pertama kelak akan melihat Alloh. Dan diberikan kesempatan untuk memberi syafaat dan bantuan untuk umatnya. Karena beliaulah satu-satunya manusia yang masih memikirkan nasib dan hak orang lain (umatnya) pada masa itu, di mana setiap insan hanya bisa memikirkan nasib dirinya. Sebagaimana dijelaskan oleh Abuya As-Sayyid Muhammad Al-Maliky di kitab beliau, Adz-Dzakhoir Al-Muhammadiyah

Menjauhi dosa sejauh-jauhnya

Terdapat sebuah riwayat hadits dimana seorang shohabat menanyakan kebolehan membuat cuka dari khomr. Rosululloh menjawab bahwa hal tersebut dilarang, jika sudah diproses (dicampuri bahan lain). Adapun jika tidak diproses (berubah dengan sendirinya), maka tidak ada masalah.

Sebuah peristiwa pendek yang kemudian menghasilkan banyak istinbath (kesimpulan hukum) dari para ulama', berkaitan dengan kenajisan khomr tersebut. Dan berkaitan pula dengan larangan Alloh untuk mendekatinya.

Adapun hikmah yang bisa diambil dari hal tersebut, sebuah pengingat kita akan perintah Alloh untuk selalu berhati-hati dalam mendekati sebuah dosa. Segala hal yang telah menjadi larangan Alloh, maka semaksimal kita untuk berusaha menjauhi sejauh-jauhnya. Sebagaimana yang disabdakan Rosul dalam sebuah riwayat hadits,
"Apa yang telah aku perintahkan, maka kerjakanlah semampu kalian. Dan apa yang telah aku larang, maka jauhilah" -Makna Hadits-

Sabtu, 22 November 2014

Ciri-ciri istri Sholihah...




          1.       Penuh kasih sayang, selalu kembali kepada suaminya dan mencari maafnya.

Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ اَلْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ الْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا، الَّتِى إِذَا غَضِبَ جَاءَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِي يَدِ زَوْجِهَا، وَتَقُوْلُ: لاَ أَذُوقُ غَضْمًا حَتَّى تَرْضَى

"Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: "Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha." (HR. An-Nasa’i)